Showing posts with label Manajemen Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Manajemen Pendidikan. Show all posts

PENGARUH PARTISIPASI ORANG TUA SISWA TERHADAP PRESTASI BELAJAR SISWA PADA SEKOLAH MENENGAH PERTAMA NEGERI 13 SENDAWAR KECAMATAN MUARA PAHU (P-39)

Friday, November 13, 2009

Pendidikan di Indonesia bertujuan membentuk manusia Indonesia yang bermoral dan berilmu, jika berbicara tentang pendidikan, maka pasti menyangkut pula masalah lingkungan tempat pendidikan itu dilaksanakan. Lingkungan pendidikan yang dimaksud sering disebut dengan tripusat pendidikan, dalam pengertian bahwa pendidikan dilingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan dilingkungan masyarakat.


Sebagaimana telah disebutkan bahwa tujuan pendidikan nasional Indonesia adalah terbentuknya manusia pancasila dengan sikap dan tingkah laku dalam hidup bermasyarakat dan bernegara yang dijiwai oleh nilai-nilai pancasila.
Maka untuk mewujudkan sikap, tingkahlaku, yang didasari oleh nilai-nilai pancasila dan hasil prestasi belajar siswa yang kita harapkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional, maka tidak hanya sarana dan fasilitas pendidikan saja yang diperlukan, akan tetapi adanya kerja sama dan partisipasi serta dukungan dari pihak lain terutama partisipasi orang tua.

Pengaruh tingkat pendidikan orang tua merupakan faktor yang utama dalam malasah ini karena masalah tersebut yaitu masalah pendidikan orang tua selain membawa dampak positif pada dirinya, keluarganya, juga terhadap alam sekitarnya.
Tingginya pendidikan orang tua berarti juga kesejahteraan orang tua dan keluarganya relatif tinggi atau sejahtera, demikian juga masalah lain seperti pendidikan anak-anak mereka, sopan santun dan prilaku mereka dari keluarga yang menjadi tangungangannya.

Oleh sebab itu, pada hakekatnya pembangunan dapat memberi kesejahteraan, baik lahir dan batin, kepada masyarakat. Untuk mencapai keinginan Pemerintah tersebut perlu memperhatikan tingkat pendidikan orang tua terhadap pertumbuhan anak mereka.
Diantaranya, kesulitan banyak pula ditemui oleh anak yaitu berhubungan atau yang berkaitan dengan kegiatan orang tuanya dalam pendidikan anak baik yang bersifat formal maupun nonformal, yaitu kurangnya orang tua dalam menyediakan fasilitas atau keperluan bagi anak itu sendiri.

Suatu misal, bahwa dalam rangka mengikuti suatu mata pelajaran disekolah dalam bidang studi tertentu bagi peserta didik memerlukan bantuan, baik yang berkaitan dengan fasilitas maupun kemampuan yang dimiliki keluarga atau orang tua, sehingga kurangnya perhatian dari orang tua maka prestasi belajar anak semakin menurun.
Dalam hal ini bagi orang tua dalam mendidik anak harus diperhatikan keperluan-keperluan yang menyangkut tentang kebutuhan anak, seperti : buku-buku pelajaran dan lain-lainnya. Sebab tanpa adanya perhatian ataupun dorongan dari orang tua tentu bagi para siswa hanya suka bermain dari pada belajar.

Tetapi dalam sisi lain kita harus dapat memperhatikan apakah bagi orang tua tersebut mengetahui dan memahami perlunya pendidikan bagi anak, karena bagi orang tua yang mempunyai pendidikan rendah mereka sangat enggan atau berat untuk mengeluarkan biaya demi keperluan pendidikan dan masa depan anak tersebut. Tetapi ada juga yang memperhatikan anaknya dalam pendidikan, walaupun pendidikan orang tuanya rendah, tetapi hal seperti ini jarang sekali.

Dengan demikian berarti peran orang tua dalam mendidik anak utnuk lebih berprestasi dalam lingkungan sekolah, keluarga dan masyarakat sangat dibutuhkan karena tanpa kuatnya pondasi dasar, tentu untuk mengikuti jenjang yang selanjutnya akan mengalami hambatan-hambatan. Baik yang datang dari dirinya sendiri maupun orang tua atau keluarga lainnya. Apalagi dijaman era globalisasi saat ini yang menyebabkan perubahan dalam berbagai aspek diantaranya pembiasaan budaya dari sifat ketimuran terkontaminasi dengan sifat kebaratan, akibat hal itu terjadilah penurunan ahlak dan moralitas (dekadensi moral) pada masyarakat oleh karena itu agar pengaruh tersebut tidak menjalar kedunia pendidikan, maka perlu peran serta orang tua dalam membina ahlak dan mental anaknya agar pendidikan diarahkan sesuai dengan kurikulumm terlaksana secara efektif dan efisien.

Tapi kenyataannya di era globalisasi saat ini justru timbul suatu permasalahan kurangnya partisipasi dan perhatian orang tua dalam memberikan motifasi belajar anaknya. Selain itu pula pengawasan dan perhatian orang tua dalam kegiatan dan hasil belajar anaknya sangatlah minim, hal ini dikarenakan orang tua hanya mementingkan kegiatan sebagai orang yang sibuk dalam pemenuhan materi akibatnya kegiatan dan pengawasan orang tua hanya diabaikan.

Berdasarkan pengamatan yang penulis lakukan di SMP Negeri 13 Sendawar Kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Barat, terdapat beberapa permasalahan yang menyangkut prestasi belajar siswa diantaranya masih rendahnya beberapa nilai mata pelajaran para siswa disekolah tersebut hal ini diakibatkan pengawasan dan partisipasi orang tua.

Maka berdasarkan pengamatan / observasi penuli selama 28 hari melakukan pengumpulan data di SMP Negeri 13 Sendawar, rata-rata siswa yang memiliki nilai diatas standar rata-rata berkisar 80% hal ini dapat dilihat dari nilai raport pada semester II kelas 3 dari 160 orang siswa sebagai berikut : siswa yang mendapat nilai rata-rata prestasi belajar dari rentang 6,5 sampai dengan 80 hanya 128 orang, sedangkan siswa yang mendapatkan nilai rata-rata prestasi belajarnya dibawah 6,5 sebanyak 32 orang, hal ini berarti terdapat 20% siswa yang memiliki nilai dibawah rata-rata prestasi belajar, sedangkan apabila dilihat dari tingkat kehadiran para siswa rata-rata perbulannya siswa yang tidak masuk sekolah tanpa izin (membolos) 5% perbulan dari seluruh siswa. Selain itu pula kurangnya kesadaran siswa dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler di sekolah seperti pramuka.

Selain itu pula sering kali dijumpai pada saat pembagian raport, pihak sekolah selalu mengundang orang tua untuk menerima raport putra-putrinya, akan tetapi yang hadir kebanyakan bukan orang tua atau pihak yang membiayai, melainkan kakak atau orang tua yang bukan bertanggung jawab atas biaya dan pendidikan anak, sehingga hal ini menyulitkan pihak sekolah menyampaikan hal-hal penting kepada orang tua. Selain itu jarang sekali ada orang tua yang berkunjung ke sekolah untuk mengecek kegiatan anaknya disekolah atau menanyakan langsung pada anaknya tentang kegiatan belajar anaknya di sekolah.

Dari uraian diatas terlihat bahwa sekolah tidak akan berhasil mendidik manusia yang diinginkan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional tanpa adanya partisipasi dari orang tua siswa.
Berdasarkan uraian diatas penulis tertarik untuk menyusun judul skripsi yaitu : Pengaruh Partisipasi Orang Tua Terhadap Prestasi Belajar Siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 13 Sendawar Kecamatan Muara Pahu Kabupaten Kutai Barat.

PERBANDINGAN METODE BAYES DENGAN METODE MAKSIMUM LIKELIHOOD DALAM MENGESTIMASI PARAMETER DISTRIBUSI NORMAL (P-38)

Setiap orang dalam hidupnya sering membuat estimasi. Apabila akan menyeberang jalan, kita menaksir berapa kecepatan kendaraan yang melewati jalan pada saat itu. Sehingga kita dapat memutuskan akan menyeberang atau tidak, para manajer pun berbuat hal yang sama. Mereka harus menaksir jumalah konsumennya dan kemampuan debiturnya, kelengkapan produk yang dijualnya, pelaku pesaingnya, dan sebagainya. Apa yang mereka putuskan biasanya dilandasi oleh estimasi-estimasi yang berasal dari informasi yang tidak lengkap dan diselubungi oleh ketidakpastian yang besar, sehingga hasilnya pun kurang memadai. Dengan penguasaan dan pemikiran teknik estimasi yang lebih baik diharapkan juga hasilnya akan bertambah baik.


Dalam alam realitas, parameter yang sebenarnya ingin diketahui jarang diperoleh. Parameter pada umumnya tidak diketahui karena populasinya tidak berhingga besarnya, atau kalau berhingga jumaksimum likelihoodahnya terlalu besar untuk diteliti seluruhnya dibanding biaya, waktu, dan tenaga yang tersedia (Tiro, 2000: 75). Di samping itu besarnya populasi seringkali tidak dapat diketahui, seperti banyaknya ikan di Laut Jawa, banyaknya kayu meranti di Hutan Kalimantan, jumlah total produksi lampu yang ada, dan sebagainya.

Untuk mengestimasi parameter suatu populasi maka diambil sebuah sampel yang representatif, sebelum estimasi dilakukan, perlu diketahui lebih dulu keadaan populasi variabel random tersebut secara apriori, seperti bentuk distribusinya, dan karakteristik parameter-parameter lain. Walaupun kerapkali informasi tentang populasinya sangat minimal, informasi yang diperoleh secara apriori itu kemudian dapat ditambahkan pula dengan informasi yang diperoleh dari sampel itu sendiri.
Dalam statistika inferensial, ada dua bagian penting yang menjadi pusat perhatian yaitu estimasi parameter dan pengujian hipotesis. Jika parameter populasi tidak diketahui maka dilakukan estimasi tapi jika parameter diketahui maka dilakukan pengujian hipotesis untuk menguji kebenaran dari asumsi tentang parameter. Dalam mengestimasi parameter, maka perlu memilih metode yang tepat sesuai dengan keadaan dari populasi yang diteliti. Dalam statistika inferensi, biasanya diasumsikan bahwa distribusi populasi diketahui. Teknik yang digunakan untuk menaksir nilai parameter bila distribusi populasi diketahui adalah metode maximum likelihood. Metode ini hanya mendasarkan inferensinya pada sampel. Tetapi jika distribusi populasi tidak diketahui maka metode maksimum likelihood tidak dapat digunakan. Bayes memperkenalkan suatu metode dimana kita perlu mengetahui bentuk distribusi awal (prior) dari populasi yang dikenal dengan metode Bayes. Sebelum menarik sampel dari suatu populasi terkadang kita peroleh informasi mengenai parameter yang akan diestimasi. Informasi ini kemudian digabungkan dengan informasi dari sampel untuk digunakan dalam mengestimasi parameter populasi.

Menurut Bayes, parameter populasi berasal dari suatu distribusi, sehingga nilainya tidaklah tunggal (merupakan variabel random), sedangkan menurut metode klasik parameter populasi diasumsikan tetap (konstan) walaupun nilainya tidak diketahui. Masing-masing pendekatan sudah tentu mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Pada metode maksimum likelihood, teknik estimasi parameternya lebih mudah, sehingga orang banyak menggunakan teknik ini. Akan tetapi teknik ini hanya dapat digunakan bilamana distribusi populasi diketahui. Selain itu, metode maksimum likelihood sangat sensitive terhadap data ekstrim. Data ekstrim ini sangat berpengaruh terhadap nilai rata-rata ataupun variansi. Pada metode Bayes, karena nilai parameternya berasal dari suatu distribusi, maka kesulitan pertama yang dijumpai adalah bagaimana bentuk distribusi parameter tersebut. Walaupun untuk menentukan distribusi prior dari parameter adalah sulit, tetapi estimasi parameter dengan metode Bayes tampaknya lebih menjanjikan karena peneliti tidak perlu tahu tentang distribusi prior dari populasi.

Pada metode Bayes seorang peneliti harus menentukan distribusi prior dari parameter yang ditaksir. Penentuan distribusi parameter ini menurut Hogg & Craig (1978) sangatlah subyektif. Semakin berpengalaman seseorang, maka semakin mudahlah ia menentukan distribusi priornya. Sudah tentu penentuan distribusi prior ini harus berdasarkan alur berpikir yang logis (Bernando & Smith, 1994). Setelah informasi dari data (yang didapat dari pengambilan sampel) digabungkan dengan informasi prior dari parameter, akan didapat distribusi posterior dari parameter.

Metode maksimum likelihood mendasarkan inferensinya hanya pada informasi yang dikandung dalam sampel. Informasi prior tidak dimasukkan dalam analisa statistik formal. Metode tersebut pada dasarnya menafsirkan probabilitas sebagai frekuensi relatif (probabilitas obyektif). Bayes menggunakan interpretasi probabilitas secara subyektif di dalam analisa statistika formal. Pendekatan Bayes terhadap metode estimasi statistik menggabungkan informasi yang dikandung dalam sampel dengan informasi lain yang telah tersedia sebelumnya. Dari segi asumsi statistikawan klasik memandang bahwa parameter populasi mempunyai harga tertentu yang tidak diketahui sehingga pernyataan probabilitas tentang parameter populasi tidak mempunyai arti. Sebaliknya para pengikut Bayes mengakui adanya ketidakpastian tentang parameter populasi sehingga kita dapat membuat pernyataan probabilitas tentang parameter populasi. Metode Bayes membuat pernyataan probabilitas tentang , sedangkan metode klasik membuat pernyataan probabilitas tentang hasil sampel.

Dalam mengestimasi parameter pemilihan metode estimasi sangat penting. penggunaan metode harus sesuai dengan kondisi populasi, misalnya apakah distribusi populasi diketahui atau tidak.

Distribusi diffuse terjadi jika informasi prior tidak ada atau sangat sedikit bila dibandingkan dengan informasi dalam sampel (likelihood-nya). Jika distribusi diffuse digunakan dalam metode Bayes maka distribusi posterior akan mempunyai bentuk yang sama dengan fungsi likelihood, akibatnya estimasi maksimum likelihood akan sama dengan estimasi Bayes.

Dasar inferensi dan keputusan di dalam statistika klasik hanyalah informasi sampel. Jadi, dalam keaadaan distribusi diffuse, metode Bayes dan metode klasik pada hakikatnya mempunyai informasi yang sama. Walaupun demikian, masih terdapat perbedaan interpretasi diantara dua hasil yang “sama” pada kedua metode tersebut. Parameter yang akan diestimasi adalah rata-rata dan variansi khusus pada distribusi normal. Pada studi ini dikhususkan pada distribusi normal karena distribusi lain dapat diturunkan atau diperluas dari distribusi normal, kaitannya dengan teorema limit sentral, penyederhanaan masalah, untuk memenuhi syarat dalam estimasi maksimum likelihood dan Bayes serta untuk mempermudah penurunan formula-formula matematiknya. Akan tetapi, pada situasi yang sebenarnya, kalau distribusi populasi tidak diketahui, maka bentuk distribusi haruslah diestimasi.

Berdasarkan uraian tersebut maka penulis tertarik untuk meneliti dan menuangkan permasalahan tersebut dalam sebuah skripsi yang berjudul: “Perbandingan Metode Bayes dengan Metode Maksimum Likelihood dalam Mengestimasi Parameter Distribusi Normal”.

PENERAPAN PENGAJARAN DAN PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL (CONTEXTUAL TEACHING LEARNING) DALAM UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA DIKLAT (P-37)

Perkembangan teknologi saat ini telah memberikan manfaat yang tidak terhingga bagi kehidupan manusia. Perkembangan teknologi tersebut telah mencakup segala aspek kehidupan masyarakat. Seiring dengan perkembangan teknologi tersebut dibutuhkan peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang handal. Pendidikan merupakan salah satu bidang yang bertujuan untuk membentuk manusia seutuhnya yang handal dan berkompeten di segala bidang.


Peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) melalui pendidikan akan menghasilkan SDM yang mampu bersaing secara sehat dalam ketatnya kompetisi dalam Dunia Usaha/Dunia Industri (DU/DI). Sehingga sangat diharapkan adanya lembaga yang menghasilkan Sumber Daya Manusia yang berkompeten dibidangnya.
Sekolah merupakan salah satu lembaga pendidikan formal yang akan menghasilkan lulusan yang nantinya diharapkan mempunyai lulusan yang dibutuhkan baik di dunia usaha/dunia industri (DU/DI). Sekolah yang mampu menghasilkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang terampil dan berkualitas lebih ditujukan kepada SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Hal ini dilatar belakangi oleh Peraturan Pemerintah (PP) No. 29 Tahun 1990, Pasal 3 ayat 2, yaitu, “Menyiapkan peserta didik untuk memasuki lapangan kerja serta mengembangkan sikap profesional”.
Berbicara mengenai pelaksanaan Proses Belajar Mengajar (PBM) di sekolah khususnya di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) seringkali masih menimbulkan persoalan yaitu kurangnya pemahaman siswa tentang materi yang diajarkan, hal ini terjadi dikarenakan banyaknya siswa yang mampu menyajikan tingkat hapalan yang baik tentang materi ajar yang diterimanya, tetapi pada kenyataannya siswa tidak memahami konsep yang diajarkan.
Siswa mampu menghapal berbagai rumus-rumus dan konsep-konsep yang berhubungan dengan materi ajar teknik elektro tetapi mereka tidak mampu menghubungkan atau mengkaitkan materi ajar yang mereka terima di sekolah dengan bagaimana pengetahuan tersebut akan digunakan nantinya. Melihat hasil belajar siswa pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) pada 3 (tiga) sekolah antara lain SMKN 1 Bukittinggi, SMKN 1 Pariaman, dan SMKN 1 Padang menunjukkan bahwa belum tercapainya Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) dengan nilai rata – rata siswa pada SMKN 1 Bukittingi pada mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) adalah 6.61 dan jumlah siswa yang dinyatakan lulus sebanyak 58 % (Tata Usaha SMKN 1 Bukittinggi). Selanjutnya hasil belajar siswa di SMKN 1 Pariaman untuk mata diklat Memasang Sistem Perpipaan dan Saluran (MSPS) belum juga mencapai kriteria tuntas belajar mengajar, hal ini ditunjukkan berdasarkan rata-rata nilai siswa adalah 6.96 dan jumlah siswa yang lulus adalah 65%.(Tata Usaha SMKN 1 Pariaman). Sedangkan pada SMKN 1 Padang nilai rata – rata siswa pada mata diklat yang sama adalah 7.2 dan jumlah siswa yang tidak lulus sebanyak 35% (Tata Usaha SMKN 1 Padang) berdasarkan standar yang telah ditetapkan maka pada SMKN 1 Padang pembelajaran mata diklat MSPS dinyatakan tuntas. Melihat rata – rata nilai pada ketiga sekolah diatas menunjukkkan belum tercapainya Standar Ketuntasan Belajar Mengajar (SKBM) dimana batas kelulusan mata diklat produktif adalah ≥ 70 dan persentase kelulusan mencapai 60% (Depdiknas 2006).
Ada beberapa hal yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa pada mata diklat MSPS ini, antara lain disebabkan faktor dari siswa dan faktor dari guru sendiri. Dari segi siswa terlihat kurangnya antusias siswa dalam proses belajar mengajar seperti ada siswa yang ke sekolah tanpa persiapan misalnya tidak membawa alat – alat tulis, tidak membawa modul sebagai pegangan siswa, dan tidak sedikit siswa yang tidak mempelajari modul atau jobsheet yang diberikan di rumah.
Dilihat dari segi ketersediaan fasilitas belajar di SMKN 1 Bukittinggi dapat dikategorikan lengkap, berdasarkan kurikulum yang digunakan SMKN 1 Bukittinggi untuk mata diklat MSPS fasilitas dan bahan-bahan praktek yang dibutuhkan cukup memadai dan setiap 1 (satu) kelompok terdiri atas 2 -3 siswa. Untuk SMKN 1 Pariaman ketersediaan fasilitas belajar untuk mata diklat ini cukup memadai dan setiap praktek dalam satu kelompok terdiri atas 3-4 siswa. Dan untuk SMKN 1 Padang ketersediaan alat dan bahan praktek untuk mata diklat ini dikategorikan lengkap dan setiap praktek terdiri atas 3 – 4 siswa per kelompoknya.
Faktor dari guru juga sangat mempengaruhi hasil belajar, peningkatan hasil belajar siswa didukung dengan guru yang mempunyai kompetensi mengajar yang baik. Sutjipto (Rektor Universitas Negeri Jakarta) menyebutkan, “Saat ini baru 50 persen dari guru se-Indonesia yang memiliki standarisasi dan kompetensi. Kondisi seperti ini masih dirasa kurang. Sehingga kualitas pendidikan kita belum menunjukkan peningkatan yang signifikan”.(www.pikiranrakyat.com, 24 Okt 2006). Kompetensi mengajar guru salah satunya adalah penguasaan metode mengajar yang baik dan efektif. Depdiknas (2006) mengemukakan 36 model pembelajaran yang efektif, model pembelajaran ini disesuaikan dengan tingkat satuan pendidikan dan peserta didik.
Berdasarkan hasil wawancara dan pengamatan penulis pada guru yang mengajar mata diklat MSPS di ketiga sekolah tersebut, metode yang digunakan guru dalam mengajar antar lain metode ceramah untuk menjelaskan teori pengantar, setelah itu beralih pada kegiatan praktikum berdasarkan jobsheet yang telah disusun, setelah siswa selesai melakukan pekerjaan yang diberikan maka guru akan menguji coba hasil pekerjaan yang telah dilakukan siswa. Setelah itu guru memberikan penilaian terhadap hasil kerja siswa dan pada akhir pertemuan guru memberikan tugas dalam bentuk laporan tertulis tentang apa yang telah dikerjakan tadi. Dapat disimpulkan guru mata diklat MSPS pada ketiga sekolah yang telah diamati ini melakukan metode pengajaran yang hampir sama dan tidak ada perbedaan yang signifikan yaitu metode ceramah, praktikum dan pemberian tugas.
Pembelajaran seperti dijelaskan diatas ini sifatnya terpusat pada guru. Djohar (2003) dalam Reorientasi Paradigma Pembelajaran (Sumarni, Pikiran Rakyat 17-01-07) menyebutkan, “ Sistem pendidikan saat ini masih berperan sebagai panggung pentas (delivery system). Guru berdiri di depan siswa untuk menyampaikan pengetahuan, sementara siswa menerimanya tanpa harus mengetahui prosesnya. Siswa menerima ilmu, bukan memahami budaya ilmu, sehingga kehilangan orientasi hidupnya karena mereka tidak dituntun membaca fenomena sekelilingnya”.
Sebagai akibat pendekatan pembelajaran yang cenderung linear indoktrinatif, siswa bukan cuma menjauh tetapi juga tidak mampu menghadapi kehidupan nyata, gagap terhadap masalahnya sendiri apalagi dengan lingkungan dan masyarakatnya sendiri. Tenaga pendidik yang profesional sebaiknya mampu menemukan metode pembelajaran yang efektif dan bervariasi agar peserta didik dapat mengembangkan kreatifitas dan bakatnya dalam proses pendidikan itu sendiri. Guru sebaiknya menemukan cara terbaik untuk menyampaikan berbagai konsep yang diajarkan di dalam mata pelajaran tertentu, sehingga semua siswa dapat menggunakan dan mengingatnya lebih lama konsep tersebut. Bagaimana seorang guru dapat berkomunikasi secara efektif dengan siswanya yang selalu bertanya-tanya tentang alasan dari sesuatu, arti dari sesuatu, dan hubungan dari apa yang mereka pelajari.
Tenaga pendidik yang profesional dapat membuka wawasan berpikir yang beragam dari siswa, sehingga mereka dapat mempelajari berbagai konsep dan mampu mengkaitkannya dengan kehidupan nyata, sehingga dapat membuka berbagai pintu kesempatan selama hidupnya. Pengajaran dan Pembelajaran Kontekstual (Contextual Teaching Learning/CTL) merupakan konsep belajar yang membantu guru mangaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Pada pengajaran berbasis CTL, tugas guru adalah membantu siswa mencapai tujuannya. Guru lebih banyak berurusan dengan strategi daripada memberi informasi. Tugas guru mengelola kelas sebagai sebuah tim yang bekerja bersama untuk menemukan sesuatu yang baru bagi anggota kelas (siswa). Depdiknas (2007) dalam Sosialisasi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) menyebutkan,“ Pengalaman di negara lain menunjukkan bahwa minat dan prestasi siswa dalam bidang matematika, sains, dan bahasa meningkat secara drastis pada saat :
1. Mereka dibantu untuk membangun keterkaitan antara informasi (pengetahuan) baru dengan pengalaman (pengetahuan lain) yang telah mereka miliki atau mereka kuasai.
2. Mereka diajarkan bagaimana mereka mempelajari konsep, dan bagaimana konsep tersebut dapat dipergunakan di luar kelas.
3. Mereka diperkenankan untuk bekerja secara bersama-sama (cooperative)
Meningkatnya minat dan prestasi siswa tersebut dicapai, karena guru menggunakan suatu pendekatan pembelajaran dan pengajaran kontekstual” (Depdiknas 2006).
Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bermaksud untuk meningkatkan hasil belajar siswa SMK Jurusan Teknik Listrik dengan menggunakan metode pembelajaran kontekstual (Contextual Teaching Learning/CTL).

PEMBELAJARAN TEMATIK SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA KELAS 3 SD NEGERI 034 SAMARINDA ULU (P-36)

Dunia pendidikan saat ini sedang dihadapkan pada dua masalah besar, yaitu mutu pendidikan yang rendah dan sistem pembelajaran di sekolah yang kurang memadai. Dua hal tersebut sangat bertentangan dengan tuntutan era globalisasi yang ditandai dengan AFTA 2003 yang menuntut pendidikan agar memiliki pendidikan yang tanggap terhadap situasi persaingan global dan memiliki pendidikan untuk dapat membentuk pribadi yang mampu belajar seumur hidup.


Krisis pendidikan yang melanda bangsa Indonesia saat ini membuat kekhawatiran tersendiri bagi para orang tua dan pihak sekolah yang telah dipercaya sebagai lembaga pendidik. Lemahnya tingkat berfikir siswa menjadi sebuah tantangan besar bagi para pendidik. Oleh karena itu guru dituntut harus mampu merancang dan melaksanakan program pengalaman belajar dengan tepat agar siswa memperoleh pengetahuan secara utuh sehingga pembelajaran menjadi bermakna bagi siswa. Bermakna disini berarti bahwa siswa akan dapat memahami konsep-konsep yang mereka pelajari melalui pengalaman langsung dan nyata.
Salah satu sistem yang dapat diterapkan yakni siswa belajar dengan “melakukan”. Selama proses “melakukan” tersebut mereka akan memahami dengan lebih baik dan menjadi lebih antusias di kelas. Menurut Sutirjo dan Mamik (2004), dalam proses pembelajaran perlu memadukan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lain dalam satu tema. Alasan pertama yang mendasari hal ini adalah karena latar belakang empiris. Kenyataan dalam kehidupan sehari-hari tidak satupun fenomena alam yang terjadi secara terpisah atau berdiri sendiri, namun justru bersifat kompleks dan terpadu. Alasan kedua, yaitu tuntutan dan perkembangan iptek yang begitu pesat dan kompleks, secara ilmiah membutuhkan penyikapan secara realistis. Dengan demikian, peningkatan kualitas pembelajaran dan bahan ajar di sekolah harus diperkaya dengan kenyataan hidup dan tuntutan zaman.
Agar proses pembelajaran dapat mengakomodasikan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta permasalahan yang begitu kompleks dalam masyarakat, maka dapat diterapkan pembelajaran Tematik. Mengingat, dengan pembelajaran Tematik siswa tidak terpisah dengan kehidupan nyata dan tidak ‘gagap’ dalam menghadapi perkembangan zaman. Pembelajaran Tematik akan menciptakan sebuah pembelajaran terpadu yang akan mendorong keterlibatan siswa dalam belajar, membuat siswa aktif terlibat dalam proses pembelajaran, dan menciptakan situasi pemecahan masalah sesuai dengan kebutuhan siswa. Pembelajaran Tematik yakni kegiatan mengajar dengan memadukan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema. Dalam kurikulum 2004, pembelajaran Tematik dapat diartikan sebagai pemaduan materi pelajaran dalam satu tema. Dengan demikian, proses pembelajarannya mengelola pembelajaran yang mengintegrasikan materi dari beberapa mata pelajaran dalam satu topik pembelajaran atau satu tema.
Pembelajaran Tematik dapat pula dipandang sebagai upaya untuk memperbaiki kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya materi kurikulum. Pembelajaran Tematik memberi peluang pembelajaran terpadu yang lebih menekankan keterlibatan anak dalam belajar, membuat anak terlibat secara aktif dalam proses pembelajaran dan pemberdayaan dalam memecahkan masalah tumbuhnya kreativitas sesuai kebutuhan siswa. Lebih lanjut, diharapkan siswa dapat belajar dan bermain dengan kreativitas yang tinggi. (Sutirjo dan Mamik, 2005)
Fenomena yang terjadi sekarang adalah banyak siswa yang lulus pada bidang studi matematika tetapi tidak lulus pada bidang studi Bahasa Indonesia atau sains. Padahal jika dilihat dari tingkat kesukaran, soal matematika lebih sulit dari pada soal bidang studi yang lain. Hal ini membuktikan bahwa tidak semua siswa pandai disemua bidang studi. Fenomena ini juga terjadi di SD Negeri 034 Samarinda sebagai sekolah yang peneliti teliti. Hal ini terjadi karena guru belum terbiasa melaksanakan pebelajaran yang mengaitkan materi dengan masalah-masalah yang kontekstual. Berikut nilai hasil belajar siswa bidang studi matematika, sains, dan bahasa indonesia.
Tabel 1. Nilai Rata-Rata Ulangan Harian Siswa di Kelas 3 SD Negeri 034 Samarinda Ulu.

Mata Pelajaran Nilai
Matematika 50,80
Sains 54,43
Bahasa Indonesia 28,43
Sumber: Dokumentasi wali kelas III SDN 034 Samarinda Ulu Tahun Pembelajaran 2006/2007

Dilihat dari dokumentasi rata-rata nilai hasil belajar siswa kelas 3 SD Negeri 034 Samarinda Ulu pada bidang studi di atas, peneliti menduga bahwa rendahnya hasil belajar disebabkan oleh tidak adanya keterpaduan materi yang diajarkan. Salah satu pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengatasi fakta di atas adalah pembelajaran Tematik. Karena pembelajaran Tematik mengaitkan bidang studi matematika dan bidang studi lain seperti sains dan bahasa indonesia ke dalam satu tema, diharapkan siswa menguasai bidang studi yang mereka pelajari.
Berdasarkan uraian di atas, peneliti ingin mengetahui peningkatan hasil belajar matematika siswa melalui pendekatan pembelajaran Tematik pada siswa kelas 3 SD Negeri 034 Samarinda Ulu.

SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPLEKS KOBALT(II) DENGAN SULFADIAZIN DAN SULFAMERAZIN (P-35)

Senyawa kompleks memiliki peranan penting dalam kehidupan sehari –hari. Aplikasi senyawa ini meliputi bidang kesehatan, farmasi, industri, dan lingkungan. Manusia setiap hari senantiasa memerlukan oksigen untuk bernapas. Proses pengikatan oksigen oleh Fe menjadi senyawa kompleks dalam tubuh merupakan salah satu contoh aplikasi senyawa kompleks dalam keseharian. Senyawa kompleks terbentuk akibat terjadinya ikatan kovalen koordinasi antara suatu atom atau ion logam dengan suatu ligan ( ion atau molekul netral ). Logam yang dapat membentuk kompleks biasanya merupakan logam transisi, alkali, atau alkali tanah. Studi pembentukan kompleks menjadi hal yang menarik untuk dipelajari karena kompleks yang terbentuk dimungkinkan memberi banyak manfaat, misalnya untuk ekstraksi dan penanganan keracunan logam berat.


Kobalt merupakan salah satu logam unsur transisi dengan konfigurasi elektron 3d7 yang dapat membentuk kompleks. Kobalt yang relatif stabil berada sebagai Co(II) ataupun Co(III). Namun dalam senyawa sederhana Co, Co(II) lebih stabil dari Co(III). Ion – ion Co2+ dan ion terhidrasi [Co(H2O)6]2+ stabil di air. Kompleks kobalt dimungkinkan dapat terbentuk dengan berbagai macam ligan, diantaranya sulfadiazin dan sulfamerazin. Sulfadiazin dan sulfamerazin merupakan ligan yang sering digunakan untuk obat antibakteri. Keduanya merupakan turunan dari sulfonamid yang penggunaannya secara luas untuk pengobatan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif tertentu, beberapa jamur, dan protozoa (Siswandono dan Soekardjo : 1995 ).
Guru, Goutam and Goutam (2004) telah melaporkan terbentuknya kompleks Zn(II) - sulfadiazin dimana sulfadiazin terkoordinasi secara bidentat terhadap atom pusat Zn2+ melalui atom NH sekunder dan N tersier. Sedangkan Saptorini (2003) melaporkan terbentuknya kompleks Cu(II)-sulfadiazin dan Cu(II)-sulfamerazin dimana sulfadiazin terkoordinasi secara bidentat melalui NH sekunder dan N tersier dan sulfamerazin terkoordinasi secara monodentat pada ion pusat Cu2+ melalui NH2 primer. Kompleks Hg(II)-sulfadiazin dan Hg(II)-sulfamerazin telah berhasil disintetis oleh Hossain, Amoroso, Banu, Malik (2006) dengan sulfadiazin terkoordinasi secara tridentat melalui N sekunder dan N tersier dan sulfamerazin terkoordinasi secara bidentat melalui NH sekunder dan N tersier pada ion pusat Hg2+. Dengan Co2+, sulfadiazin dan sulfamerazin dimungkinkan dapat terkoordinasi secara monodentat melalui NH2 primer maupun bidentat melalui NH sekunder dan N tersier. Oleh karena itu sintesis dan karakterisasi kompleks Co(II)-sulfadiazin dan Co(II)-sulfamerazin menarik untuk dipelajari.
Mengingat bahwa sulfadiazin dan sulfamerazin mengandung atom donor N dan O maka dimungkinkan dapat berkoordinasi membentuk kompleks dengan ion Co2+. Struktur senyawa sulfadiazin dan sulfamerazin ditunjukkan oleh Gambar 1.

(L1) (L2)
Gambar 1. Struktur senyawa sulfadiazin (L1) dan sulfamerazin (L2) (Wilson and Gisvold : 1982 )

B. Perumusan Masalah

1. Identifikasi Masalah
Sintesis kompleks dapat dilakukan dengan cara mencampurkan larutan logam dan ligan dengan pelarut yang melarutkan, seperti air, metanol, etanol, propanol, dan asetonitril disertai pemanasan, refluks, atau tanpa pemanasan.
Perbandingan mol logam dan mol ligan tidak selalu stoikiometri sehingga perlu dicari perbandingan yang sesuai. Untuk menentukan formula kompleks dilakukan dengan menganalisis unsur C, H, N, O, dan Co2+. Ketepatan struktur kompleks dapat ditentukan dengan kristalografi.

Penerapan Metode Inquiry Dengan Media VCD Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Di MAN Malang I (P-34)

Pendidikan mengembang suatu misi yang teramat penting yaitu membentuk manusia seutuhnya yang memiliki semangat kebangsaan cinta tanah air dan mampu mengisi partisipasi dalam pembangunan. Dalam era globalisasi ini semakin dirasakan betapa pentingnya pengembangan pendidikan, hal ini disebabkan karena banyaknya teknologi yang bermunculan atau pesatnya peradaban, manusia tetap lebih banyak di sebabkan oleh bangsa Indonesia yaitu mewujudkan masyarakat modern yang berkepribadian yang adil dan makmur berdasarkan pancasila dan UUD 1945.


Untuk mewujudkan cita-cita itu maka usaha mencerdaskan kehidupan bangsa melalui pendidikan semakin di galakkan, salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan sekarang ini adalah rendahnya mutu lulusan MAN. Diantara penanda lulusan mutu lembaga pendidikan dinyatakan dalam bentuk prestasi belajar. Proses belajar mengajar merupakan isi pokok pendidikan, oleh karena itu semua komponen yang ada dalam pendidikan harus di abadikan demi terciptanya proses belajar pada siswa.
Dalam suatu proses belajar mengajar, dua unsur yang amat penting adalah metode mengajar dan media pengajaran. Kedua aspek ini saling berkaitan. Pemilihan salah satu metode mengajar tertentu akan mempengaruhi jenis media pengajaran yang sesuai, meskipun masih ada berbagai aspek lain yang harus diperhatikan dalam memilih media, antara lain tujuan pengajaran, jenis tugas, dan respon yang diharapkan siswa kuasai setelah pengajaran berlangsung, dan konteks pembelajaran termasuk karakteristik siswa. Meskipun demikian, dapat dikatakan bahwa salah satu fungsi utama media pengajaran adalah sebagai alat bantu mengajar yang turut mempengaruhi iklim, kondisi, dan lingkungan belajar yang ditata dan diciptakan oleh guru.
Hamalik mengemukakan bahwa pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar dapat mengakibatkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu. Di samping membangkitkan motivasi dan minat siswa, media pengajaran juga dapat membantu siswa meningkatkan pemahaman, menyajikan data dengan menarik dan terpercaya, memudahkan penafsiran data, dan memadatkan informasi. Sejalan dengan uraian ini, (Yunus, 1942:78) dalam bukunya Attarbiyatu watta’liim mengungkapkan sebagai berikut :
Bahwasannya media pengajaran paling besar pengaruhnya bagi indera dan lebih dapat menjamin pemahaman….orang yang mendengarkan saja tidaklah sama tingkat pemahamannya dan lama bertahan apa yang dipahaminya dibandingkan dengan mereka yang melihat, atau melihat dan mendengarnya.

Selanjutnya, (Ibrahim, 1946:432) menjelaskan betapa pentingnya media pengajaran karena :

Media pengajaran membawa dan membangkitkan rasa senang dan gembira bagi murid-murid dan memperbarui semangat mereka…membantu memantapkan pengetahuan pada benak para siswa serta menghidupkan pelajaran

Media pengajaran, menurut Kemp & Daytori, dapat memenuhi tiga fungsi utama apabila media itu digunakan untuk perorangan, kelompok, atau kelompok pendengar yang besar jumlahnya, yaitu (1) memotivasi minat atau tindakan, (2) menyajikan informasi, dan (3) memberi instruksi. Untuk memenuhi fungsi motivasi, media pengajaran dapat direalisasikan dengan teknik drama atau hiburan. Hasil yang diharapkan adalah melahirkan minat dan merangsang para siswa atau pendengar untuk bertindak (turut memikul tanggung jawab, melayani secara sukarela, atau memberikan sumbangan material). Pencapaian tujuan ini akan mempengaruhi sikap, nilai, dan emosi.
Dalam proses belajar mengajar seorang guru harus mempunyai kemampuan mengajar secara professional dan terampil dalam menggunakan metode dan media yang tepat dalam proses belajar mengajar. Seorang guru harus menguasai materi yang akan disampaikan dan juga harus pandai menciptakan situasi dan kondisi belajar mengajar yang menarik. Demikian juga peserta didik harus memiliki kemauan dan kemampuan belajar yang tinggi serta harus berperan aktif dalam mengikuti proses belajar mengajar sehingga menjadi pribadi yang berkualitas.


Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) telah membawa perubahan yang sangat signifikan terhadap berbagai dimensi kehidupan manusia, baik dalam bidang ekonomi, sosial, budaya maupun pendidikan. Oleh karena itu agar pendidikan tidak tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi perlu adanya penyesuaian-penyesuaian, terutama yang berkaitan dengan faktor-faktor pembelajaran di sekolah. Salah satu faktor tersebut adalah media pembelajaran yang perlu dipelajari dan dikuasai oleh guru, sehingga mereka dapat menyampaikan materi pelajaran kepada siswa secara baik dan mudah dipahami.

Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mengalami perkembangan yang sangat pesat terutama dibidang informasi dan telekomunikasi. Dengan munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi, kita dapat mengetahui kejadian atau peristiwa disuatu daerah atau Negara pada saat kejadian itu berlangsung. Pada satu sisi, ilmu pengetahuan dapat menghasilkan teknologi dan pada sisi yang lain pengetahuan dapat diserap melalui hasil teknologi. Tidak dapat dipungkiri, munculnya berbagai alat informasi dan komunikasi telah banyak membantu proses pendidikan. Ini terbukti sekarang ini dalam proses belajar mengajar seorang guru sering menggunakan media seperti komputer, tape rekorder, overhead projector dan lain-lain.
Dalam dunia pendidikan perangkat elektronik dapat dijadikan sebagai media yang dapat mempermudah dan mempercepat proses penyampaian materi pendidikan. Kemajuan dunia yang cepat dan pesat telah memuat agar bagaimana kita dapat mengakses ilmu pengetahuan sebanyak mungkin dengan cepat dan akurat.

Dalam rangka meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas, lembaga pendidikan berusaha meningkatkan kualitas dan proses hasil pembelajaran. Usaha-usaha dalam meningkatkan kualitas pembelajaran antara lain mengembangakan media pembelajaran, menerapkan media pembelajaran, serta memilih dan menetapkan jenis media pembelajaran yang akan digunakan. Pengembangan dan penerapan media pembelajaran diharapkan dapat memberikan motivasi belajar terhadap siswa sehingga berdampak pula pada prestasi belajarnya.

Berkaitan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi lembaga pendidikan harus mampu menerapkan media pendidikan yang sudah ada. Media pendidikan yang diterapkan oleh lembaga pendidikan sekarang ini belum di daya gunakan secara optimal, melihat kenyataan yang ada dilapangan guru jarang sekali menggunakan media pendidikan dalam proses belajar mengajar di kelas, guru lebih sering menggunakan metode ceramah.

Dalam proses belajar mengajar di kelas yang hanya menggunakan metode ceramah dan guru sebagai satu-satunya sumber belajar tanpa adanya media, maka komunikasi antara guru dan siswa tidak akan berjalan secara lancar. Hal ini terkait dengan permasalahan dalam proses belajar mengajar. Permasalahan yang dihadapi suasana kelas ramai, penjelasan guru membosankan, siswa kesulitan memahami pesan-pesan verbal, materi cenderung bersifat umum, dan kadang-kadang penyampaian guru terlalu cepat.
Sering kita jumpai banyak siswa merasa enggan menerima pelajaran dari seorang guru, karena merasa bosan. Dan tidak sedikit siswa mengeluh dengan mata pelajaran ekonomi, mereka merasa bahwa ilmu ekonomi merupakan pelajaran yang sangat sulit dan tidak disukai, karena pelajaran ekonomi tidak hanya menghitung dan menghafal, tetapi harus faham dengan sesuatu yang dipelajari.

Oleh karena itu proses belajar mengajar seharusnya melibatkan peran suatu siswa dalam menggali potensi belajar siswa dengan cara menggunakan metode Inquiry dengan media VCD. Karena metode Inquiry dengan media VCD sebagai perantara penyampaian pesan untuk dikembangkan dan didayagunakan seoptimal mungkin. Karena metode dengan media merupakan wadah yang dapat menyalurkan pesan yang oleh sumber pesan atau pemberi pesan ingin diteruskan atau disampaikan kepada penerima pesan. Dalam penyampaian pesan pembelajaran, guru tentunya menginginkan agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan jelas, mudah dimengerti siswa, konkrit dan tahan lama dalam ingatan siswa

Berdasarkan dari penelitian yang telah dilakukan oleh Puji. B mengenai penerapan metode inquiry menunjukkan bahwa, selama proses pembelajaran berlangsung dalam penerapannya, budi membagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok satu dan kelompok dua, dimana pembelajaran siswa kelompok satu beraktifitas dengan baik. Siswa kelompok satu menyenangi kegiatan yang memerlukan interaksi antara siswa dengan siswa dan juga antara siswa dengan guru. Dengan demikian maka belajar dengan metode inquiry dapat digunakan pada kelompok satu, dengan catatan bahwa waktu yang dibutuhkan tidak sedikit. Selama proses pembelajaran siswa kelompok dua kurang beraktivitas dengan baik, siswa kelompok dua lebih senang bekerja sendiri-sendiri. Dengan demikian maka belajar dengan metode inquiry kurang tepat diterapkan pada siswa kelompok dua, meski demikian tidak berarti metode inquiry tidak boleh diterapkan pada siswa kelompok dua, karena terdapat segi positif yang timbul pada siswa kelompok dua, selama belajar dengan menggunakan metode inquiry yaitu dapat menimbulkan keberanian dalam bertanya dan mengemukakan pendapat.

Sebagaimana hasil pengembangan media VCD pembelajaran yang dilakukan oleh Ari. P ini memenuhi kriteria valid, karena setelah dilakukan penelitian tentang penerapan media VCD, untuk ahli media memperoleh hasil 81%, untuk ahli materi mempunyai hasil 85%, untuk audien perorangan mempunyai hasil 90%, dan untuk audien kelompok kecil memperoleh hasil 92%, sedangkan untuk menguji hipotesis Ho ditolak menggunakan rumus uji t (tabel) dalam uji t menunjukkan bahwa hasil t hitung = 2,34 bila dikonsultasikan dengan harga t tabel pada taraf signifikan 0,05 = 2,024, maka t hitung > t tabel. Dengan demikian Ho ditolak karena ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara siswa kelompok eksperimen (siswa yang menggunakan media VCD pembelajaran). Artinya siswa yang menggunakan media VCD pembelajaran hasil post tesnya lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak menggunakan media VCD pembelajaran.

Oleh karena itu dengan menggunakan metode dan media pembelajaran siswa dapat memperoleh pengalaman belajar secara langsung, sehingga siswa mampu memahami teori dan konsep dan pembelajaran akan lebih menarik sehingga siswa termotivasi untuk belajar

Berdasarkan latar belakang diatas, maka hal itu menjadi suatu alasan yang sangat tepat bagi penulis untuk mengangkat permasalahan tersebut dalam sebuah tulisan skripsi yang berjudul “Penerapan Metode Inquiry Dengan Media VCD Dalam Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Mata Pelajaran Ekonomi Di MAN Malang I”

Get Paid To Promote, Get Paid To Popup, Get Paid Display Banner