Analisis Perbedaan Pendapatan Petani Sistim Tanam Tabela Dengan Sistim Tanam Pindah Di Kabupaten Bangkalan … (PERT-112)

Saturday, April 19, 2008


Indonesia merupakan negara agraris yang banyak menyandarkan kehidupan pada kebutuhan masyarakatnya dari sektor pertanian. Oleh karena itu pembangunan pertanian merupakan syarat mutlak untuk melaksanakan pembangunan perekonomian negara. Pembangunan pertanian bertujuan untuk mempertinggi produksi dan pendapatan petani sebagai langkah yang terarah untuk mencapai kemakmuran. Pembangunan pertanian dilakukan melalui suatu usaha dengan strategi yang telah ditetapkan oleh pemerintah melalui suatu program peningkatan pendapatan petani. Hal ini disebabkan pendapatan masyarakat di sektor pertanian masih rendah. Padahal sebagian besar masyarakat Indonesia bekerja di sektor pertanian (Soehardjo dan Patong, 1993 : 2).

Titik berat pembangunan jangka panjang adalah pembangunan bidang ekonomi dengan sasaran utama untuk mencapai keseimbangan antara bidang pertanian dan bidang industri serta terpenuhinya kebutuhan pokok rakyat. Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan kebutuhan industri dalam negeri, meningkatkan ekspor, meningkatkan pendapatan petani dan memperluas lapangan kerja.

Ada dua (2) cara tambahan untuk mempercepat pembangunan pertanian, yaitu ; pertama, memperbaiki mutu tanah yang telah menjadi usahatani, misalnya dengan pupuk, irigasi, pengaturan sistem tanam ; kedua, mengusahakan tanah baru, misalnya pembukaan petak–petak sawah baru (Arsyad, 1992 : 281).
Dalam keadaan yang tidak memungkinkan untuk melakukan perluasan usahatani, maka salah satu usaha yang mampu meningkatkan dan memperbaiki kesejahteraan adalah dengan mendukung daya dukung lahan itu sendiri.
Salah satu upaya mendukung daya dukung lahan dan untuk meningkatkan produktifitas usahatani padi dengan dikembangkannya tekhnologi sistem tanam Tabela. Sistem tanam tabela merupakan rekayasa tekhnik penanaman tanaman padi tanpa melalui pesemaian dan pemindahan bibit, sehingga umur pertanaman padi menjadi lebih pendek. Penggunaan alat bantu dalam bentuk Atabela merupakan salah satu faktor penting dalam upaya peningkatana efisiensi usahatani (Adnyana, 1999).
Sistem tanam Tabela tidak mengakibatkan populasi tanaman berkurang dan bahkan semakin bertambah karena adanya tambahan rumpun padi di dalam masing–masing barisan tanaman.

Selama ini petani menggunakan tekhnologi sistem tanam pindah (Supra Insus Paket D) dengan jarak rumpun 20 cm x 20 cm dengan populasi tanaman yang dihasilkan + 250.000 rumpun per hektarnya. Dibandingkan dengan sistem tanam pindah, sistem tanam tabela dengan jarak 40 cm (20 x 10 cm) dapat menghasilkan populasi tanaman sebanyak + 330.000 rumpun.
Desa Arok Kecamatan Burneh Kabupaten Bangkalan merupakan salah satu wilayah yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian petani, hal ini terlihat dari jumlah penduduk produktif 304 jiwa sebanyak 224 jiwa (73%) penduduknya bermata pencaharian petani. Sistem tanam yang digunakan di Desa Arok adalah sistem tanam pindah dan sistem tanam tabela, tetapi sebagian besar petani di desa Arok menggunakan sistem tanam pindah.



Evaluasi Kinerja Proyek Pemberdayaan Petani dan Agribisnis (PPA 2001) dengan Pola Bantuan Langsung Masyarakat…(PERT-111)


Sektor usaha pertanian (agribisnis) berperan besar dalam pembangunan baik secara langsung terhadap pembentukan Product Domestic Bruto (PDB), maupun tidak langsung yaitu melalui penciptaan kondisi yang kondusif bagi pelaksanaan pembangunan dan hubungan sinergis dengan sektor lainnya. Mengingat pentingnya sektor agribisnis dalam pembangunan nasional maka pemerintah melaui Departemen Pertanian mengucurkan Proyek Pemberdayaan Petani dan Agribisnis di Pedesaan tahun anggaran 2001 dengan pola Bantuan Langsung Masyarakat (BLM). Proyek dengan pola BLM ini di kabupaten dilaksanakan oleh Dinas Pertanian Kabupaten yang diharapkan dapat menjadi model dasar yang dapat diperbaiki.
Perumusan masalah dalam penelitian ini adalah : (1) Sampai sejauhmana efektifitas dana BLM ditinjau dari segi masukan (in put) yang meliputi ketepatan kelompok sasaran, tenaga pemberdayaan kelompok, kesesuaian jumlah dana dengan kebutuhan masing-masing kelompok, ketepatan waktu pencairan dana BLM, ketepatan petani sasaran, ketepatan jumlah dana yang diterima kelompok dan ketepatan penggunaan. (2) Seberapa efektifitas dana BLM ditinjau dari segi proses meliputi proses seleksi Calon Lokasi/ Calon Peserta (CP/CL), aktivitas pemberdayaan kelompok, mekanisme penggunaan dana, mekanisme pengembalian dana dan penentuan bunga, mekanisme penentuan program pokok dan mekanisme evaluasi dan monitoring. (3) . Seberapa efektifitas dana BLM ditinjau dari segi dampak langsung yang meliputi penguatan modal kelompok, penyerapan tenaga kerja, pengembangan usaha, adopsi teknologi baru, peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan dan kemandirian kelompok. (4) Sampai seberapa efektifitas dana BLM ditinjau dari segi dampak tidak langsung yang meliputi perkembangan perekonomian setelah masuknya dana BLM desa tersebut.
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah : (1) Mengevaluasi efektifitas dana BLM ditinjau dari segi masukan (in put) yang meliputi ketepatan kelompok sasaran, tenaga pemberdayaan kelompok, kesesuaian jumlah dana dengan kebutuhan masing-masing kelompok, ketepatan waktu pencairan dana BLM, ketepatan petani sasaran, ketepatan jumlah dana yang diterima kelompok dan ketepatan penggunaan. (2) Mengevaluasi efektifitas dana BLM ditinjau dari segi proses meliputi proses seleksi Calon Lokasi/ Calon Peserta (CP/CL), aktivitas pemberdayaan kelompok, mekanisme penggunaan dana, mekanisme pengembalian dana dan penentuan bunga, mekanisme penentuan program pokok dan mekanisme evaluasi dan monitoring. (3) Mengevaluasi efektifitas dana BLM ditinjau dari segi dampak langsung yang meliputi penguatan modal kelompok, penyerapan tenaga kerja, pengembangan usaha, adopsi teknologi baru, peningkatan produktivitas, peningkatan pendapatan dan kemandirian kelompok. (4) Mengevaluasi efektifitas dana BLM ditinjau dari segi dampak tidak langsung yang meliputi perkembangan perekonomian setelah masuknya dana BLM desa tersebut.
Penelitian ini dilakukan pada 8 kelompok tani Tanaman Pangan komersial , 2 kelompok ternak Hijauan Makanan Ternak (HMT dan Pupuk) dan 2 kelompok ternak Jasa Inseminasi Buatan (IB). Populasi dari penelitian ini adalah semua kelompok tani/ ternak yang mendapatkan dana BLM PPA 2001 di kabupaten Kediri. Unit yang dievaluasi adalah kelompok tani. Kerangka sampel yang digunakan adalah total sampling (sampel keseluruhan) dan kelompok tani diambil datanya dengan cara puposive artinya semua kelompok tani penerima dana BLM di kabupaten Kediri diambil datanya dan selanjutnya dibahas secara mendalam.
Data primer diperoleh dari responden yang berasal dari kuisioner yang diformat sedemikian rupa sehingga terdapat informasi tentang sub indikator dan skor indikator. Informasi tentang sub indikator merupakan penunjang analisis diskriptif tentang kelompok tani penerima bantuan. Informasi tentang skor indikator mengidentifikasikan tingkat pemenuhan hal dalam kelompok terhadap kinerja yang merupakan standar dalam evaluasi proyek BLM ini.
Format kuisioner seperti tersebut di atas mengandung konsekuensi adanya beberapa jenis dan tahap bagi tabulasi dan analisa data. Tabulasi dari data primer meliputi : (1), tabulasi kode yang meru-pakan tabulasi data tiap sub indikator yang memberikan gambaran tentang suatu hal secara spesifik. Sub indikator merupakan poin-poin pertanyaan yang satu dengan yang lain berangkai/ berkaitan sehingga membentuk suatu informasi tentang indikator tertentu. (2), tabulasi skor yang merupakan tabulasi data yang bersifat kuantitatif hasil perbandingan antara keadaan sebenarnya dengan standar tertentu yang telah ditetapkan dalam pedoman umum maupun penjabarannya. Tabel skor ini dapat dianalisis sedemikian rupa sehingga dapat diketahui korelasi antara satu indikator dengan indikator lain, antara variabel satu dengan variabel lain, antara indikator satu dengan indikator lain atau antara variabel dengan katagori yang teridentifikasi.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan didapatkan bahwa (1) Sebagian besar besar variabel teridentifikasi dalam katagori in put (masukan) telah sesuai dengan yang diharapkan. Pada kelompok tani Tanaman Pangan Komersial tingkat pencapaiannya 91,5 %; kelompok ternak HMT tingkat pencapaiannya 79,25 % dan kelompok ternak Jasa IB tingkat pencapaiannya 86,3 %. (2) Dari hasil evaluasi proses pelaksanaan proyek PPA Tanaman Pangan Komersial telah sesuai dengan yang diharapkan dengan tingkat pencapaiannya 81,8 %; Kelompok ternak HMT dan Pupuk tingkat pencapaiannya 81,8 % dan kelompok Jasa IB tingkat pencapaiannya 79,3 %. Variabel yang perlu mendapatkan perhatian dalam katagori proses ini adalah aspek pengembalian dana, administrasi keuangan kelompok , peran tenaga pemberdaya, dan mekanisme monitoring. (3) Dampak langsung dari proyek PPA pada kelompok tani Tanaman Pangan Komersial adalah penerapan teknologi rekomendasi, peningkatan pendapatan petani, kegiatan penyuluhan dan pengembangan usaha kelompok. Sedangkan pada kelompok ternak dampak langsung dari proyek PPA ini terlihat pada meningkatnya modal kelompok yang ditandai dengan meningkatnya jumlah ternak. Namun dana BLM ini relatif kurang berdampak pada kelompok ternak HMT dan Pupuk dan Jasa IB. Persentase tingkat pencapaian terhadap dampak langsung pada kelompok tani Tanaman Pangan komersial sebesar 75,4 %, untuk kelompok HMT dan Pupuk sebesar 50 % dan untuk Jasa IB sebesar 66,25 %. Dari pengucuran dana pada kelompok tanaman pangan komersial maupun kelompok ternak ada kecenderungan perkembangan modal yang semakin menurun dan ada kecenderungan untuk disalahgunakan, mengingat lemahnya mekanisme monitoring dan tidak diterapkannya reward and punishment. (4) Dampak tidak langsung dari proyek ini relatif tidak seperti yang diharapkan, terutama tidak adanya jalinan kemitraan baik dengan pasar maupun pihak-pihak lain serta masih dilaksanakannya pemasaran secara sendiri-sendiri. Persentase tingkat pencapaian terhadap dampak tidak langsung pada kelompok tani Tanaman Pangan Komersial sebesar 75 % , kelompok ternak HMT dan Pupuk serta Jasa IB sebesar 60 %.



Analisis Penggunaan Faktor Produksi Pupuk Organik Bokashi Terhadap Produksi dan Pendapatan Usahatani Padi … (PERT-110)


Padi sebagai komoditas pangan utama mempunyai nilai strategis yang sangat tinggi, sehingga diperlukan adanya penanganan yang serius dalam upaya peningkatan produktivitasnya. Besarnya peranan pemerintah dalam pengelolaan komoditas pangan khususnya padi dapat dilihat mulai dari kegiatan pra-produksi seperti penyediaan bibit unggul, pupuk, obat-obatan, sarana irigasi, kredit produksi dan penguatan modal kelembagaan petani.
Usaha peningkatan produksi dan pendapatan usahatani padi tidak akan berhasil tanpa penggunaan teknologi baru baik dibidang teknis budidaya, benih, obat-obatan dan pemupukan. Salah satu teknologi baru di bidang pemupukan adalah diperkenalkannya pupuk Organik Bokashi dalam usahatani padi.
Penelitian ini didasarkan atas kenyataan adanya alternatif pilihan antara penggunaan pupuk Organik Bokashi dalam usahatani padi dan tanpa menggunakan pupuk Organik Bokashi (Non Bokashi). Dari kenyataan tersebut dirumuskan beberapa masalah pokok dalam penelitian ini yakni : (1) Apakah faktor produksi pupuk Organik Bokashi mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap produksi padi, (2) Apakah tingkat produksi usahatani padi dengan menggunakan pupuk Organik Bokashi lebih tinggi daripada Non Bokashi, (3) Apakah penggunaan pupuk Organik Bokhasi dalam usahatani padi akan memberikan keuntungan yang lebih tinggi daripada Non Bokashi.
Tujuan penelitian yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah faktor produksi pupuk Organik Bokashi mempunyai pengaruh yang nyata (Signifikan) terhadap produksi, (2) Untuk mengetahui dan menganalisis apakah penggunaan pupuk Organik Bokashi akan menghasilkan produksi yang lebih tinggi daripada Non Bokashi, (3) Untuk mengetahui dan menganalisis besarnya Farm Gate Prices (FGP) yaitu biaya produksi per-unit (Product Unit Cost) usahatani padi dengan pupuk Organik Bokashi dan Non Bokashi. Dengan demikian hasil penelitian ini diharapkan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak antara lain (1) Bagi petani padi penelitian ini bermanfaat untuk menentukan penggunaan pupuk organik yang menguntungkan sehingga dapat meningkatkan produksi dan pendapatan. (2) Bagi Dinas Tanaman Pangan Kabupaten Tulungagung dapat digunakan sebagai pedoman dalam menentukan prioritas dan intensitas pembinaan pada petani. (3) Bagi peneliti-peneliti lanjutan, hasil penelitian ini merupakan informasi awal untuk mengembangkan penelitian lainnya dibidang pertanian.
Penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dan berlebihan secara perlahan telah menyebabkan lahan sawah mengalami degradasi keseimbangan unsur hara termasuk kekurangan bahan organik, sehingga akan menurunkan kualitas dan produktifitas tanah. Oleh karena itu diperlukan alternatif untuk meningkatkan ketersediaan unsur–unsur hara termasuk bahan organik di dalam tanah, dengan memberikan tambahan pupuk organik dalam kegiatan usahatani. Penggunaan pupuk biofertilizer (Organik) telah banyak mendapatkan perhatian untuk budidaya tanaman padi, tetapi penggunaan yang secara efektif dan efisien dalam suatu rakitan teknologi belum banyak dilakukan. Dengan penggunaan pupuk Organik Bokashi dalam usahatani padi akan terjamin ketersediaan unsur-unsur hara yang diperlukan tanaman sehingga pertumbuhan dan produktifitas tanaman akan lebih baik.
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut maka hipotesa yang diuji dalam penelitian ini adalah (1) Faktor produksi pupuk Organik Bokashi mempunyai pengaruh yang nyata (Signifikan) terhadap produksi usahatani padi, (2) Tingkat produksi usahatani padi dengan menggunakan pupuk Organik Bokashi lebih besar daripada usahatani padi Non Bokashi, (3) Usahatani padi dengan menggunakan pupuk Organik Bokashi lebih menguntungkan daripada usahatani padi Non Bokashi.
Penelitian dilakukan dengan sengaja yaitu di Kecamatan Ngunut Kabupaten Tulungagung dimana Responden diambil dengan menggunakan metode Acak sederhana (Simple Random Sampling) sedangkan pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan tehnik Observasi, wawancara dan pencatatan. Guna menguji hipotesa maka metode analisa data yang digunakan antara lain (1) Untuk menguji hipotesa satu dan dua dengan menggunakan Uji Regresi linier berganda dengan menggunakan metode Ordinary Least Sguare (OLS) dengan melihat nilai R2 , F – test dan t – test, (2) Untuk hipotesa tiga dianalisis dengan mencari nilai Farm Gate Price.
Dari hasil analisa data diperoleh beberapa kesimpulan sebagai berikut : (1) Pupuk Organik Bokashi berpengaruh secata nyata terhadap produksi usahatani yang dibuktikan dengan nilai t hitung 1,944 > t tabel 0,058, (2) Produksi usahatani padi dengan pupuk Organik Bokashi 6,6 ton / ha lebih besar dan berbeda nyata dengan produksi usahatani padi Non Bokhasi 5,7 ton / ha, hal ini dibuktikan oleh besarnya koefisien regresi variabel dummy = 0,269 dan menunjukkan perbedaan nyata pada tingkat kesalahan 1 %, (3) Pendapatan per hektar usahatani padi dengan Bokashi adalah Rp 2.450.510,- lebih besar daripada Non Bokashi Rp 1. 713.000,- dengan nilai Farm Gate Price Rp 980,- untuk penggunaan Bokashi dan Rp 1.050 untuk non Bokashi.



Strategi Pengembangan Unit Usaha Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian (Upja) Dalam Pendayagunaan Alat Mesin Pertanian (PERT-109)


Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mencari faktor-faktor internal dan faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap usaha pengembangan Unit Usaha Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian serta mencari strategi terbaik bagi pengembangan Unit Usaha Pelayanan Jasa Alat Mesin Pertanian (UPJA).
Setelah data-data tersebut diperoleh, selanjutnya dianalisa dengan menggunakan analisis SWOT melalui tahapan pembuatan matrik faktor strategi internal, matrik strategi eksternal dan pembuatan matriks strategic position and action evaluation (SPACE).

Dari hasil analisa tersebut diperoleh kesimpulan bahwa faktor-faktor internal yang berpengaruh terhadap pengembangan UPJA adalah : (1) Kemampuan dan inisiatif manajer, (2) Kemampuan operator, (3) Kualitas pelayanan, (4) Penyedian modal awal, (5) Suku cadang, (6) Kedisplinan, (7) Sosialisasi dan promosi, (8) Mekanisme kerja, (9) Transparansi pengelolaan keuangan, (10) Konsultasi. Sedangkan faktor-faktor eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan UPJA adalah : (1) Pemanfaatan alat mesin pertanian lebih ekonomis, (2) Potensi lahan, (3) Minat pemuda tani, (4) Pembinaan, (5) Suku cadang, (6) Kerjasama dengan kelompok tani, (7) Pesaing, (8) Regulasi operasional, (9) Luas kepemilikan lahan, (10) Infrastruktur. Strategi terbaik dalam upaya pengembangan UPJA di Kabupaten Tulungagung adalah strategi agresif dan dalam implementasinya dapat ditempuh melalui pengembangan usaha serta perluasan jangkauan operasional pelayanannya.



Strategi Pengembangan Usaha Jamur Merang Pada Kelompok Tani Mancilan Purworejo … (PERT-108)


Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor Internal dan Eksternal Kelompok Tani Mancilan serta menyusun strategi bagi pengembangan usaha jamur merang di Kelompok Tani Mancilan Purworejo.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriktif yang dilaksanakan untuk mencari informasi guna mengevaluasi faktor internal dan eksternal yang berpengaruh terhadap pengembangan jamur di kelompok Tani Mancilan. Data yang diambil adalah data primer dengan teknik Interview menggunakan kuesioner dan data skunder yaitu data yang diolah dan disajikan oleh pihak lain. Analisis data yang dilakukan adalah Analisis SWOT.
Berdasarkan Analisis SWOT yang telah dilakukan diperoleh hasil skor IFAS 3,08 dan skor EFAS 2,77 maka diperoleh koordinat strategi kelompok pada strategi SO, sehingga digambarkan bahwa strategi SO memanfaatkan kekuatan dan peluang kelompok yaitu :
a. Memanfaatkan kekuatan modal, teknologi proses produksi, tenaga kerja, perbaikan kualitas jamur dana manajemen kelompok dalam pengembangan usaha jamur merang melalui kemitraan dengan petani pengusaha jamur merang untuk peningkatan produksi jamur merang dalam memenuhi pasar ekspor.
b. Mengadakan pengolahan produk jamur menjadi makanan siap saji berupa kripik jamur, hamburger, jus jamur dan mendirikan rumah makan dengan makanan khas jawa menggunakan bahan dasar jamur merang diharapkan dapat memperpendek mata rantai pemasaran dan memperkecil resiko pemasaran jamur merang di pasar lokal
Berdasarkan pada butir-butir di atas maka dapat disarankan bahwa strategi pengembangan jamur merang yang dapat dilaksanakan oleh Kelompok Tani Mancilan adalah mengatasi persaingan pasar dengan segmentasi pasar dan sekaligus menentukan target pasar yang akan dimasuki, melakukan promosi yang tepat, efisien, menambah dan memperbaiki saluran distribusi. Merebut dan meraih peluang pasar dengan melakukan diferensiasi produk dengan cara menciptakan produk olahan jamur yang inovatif, memperbaiki merk, brand image, packaging dan labeling serta meningkatkan teknologi pengolahan dengan menggunakan alat-alat yang lebih modern. Meningkatkan nilai-nilai pemasaran dengan menaikkan harga sebatas harga pesaing, memperbaiki dan meningkatkan pelayanan terhadap konsumen dan menjaga kualitas produk.



Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan …(PERT-107)


Jenis kopi yang pertama dimasukkan ke Indonesia adalah kopi arabika (Coffea arabica) tahun 1696 – 1699 yang menyebar ke P. Jawa. Selama seabad kopi arabika merupakan satu-satunya komoditi komersiil yang ditanam Belanda di Indonesia. Kemudian mengalami serangan penyakit karat daun (Hemileia vastatrix) tahun 1876, akibatnya kopi arabika hanya ditanam di daerah dengan ketinggian diatas 1.000 m dpl, dimana serangan penyakit karat daun tidak begitu menghebat.

Kopi merupakan salah satu komoditas ekspor andalan sub sektor perkebunan yang mempunyai peranan cukup besar dalam menghasilkan devisa negara dan sumber pendapatan petani. Devisa yang dihasilkan tahun 1995 mencapai 606.396 US $ dari ekspor sebanyak 230.201 ton kopi. Sampai tahun 1996 luas pertanaman kopi di Indonesia mencapai 1.178.363 Ha dengan produksi 478.581 ton. Dari total luas areal tersebut 1.120.147 Ha (95,06%) dikelola oleh rakyat sedangkan 25.616 Ha dikelola oleh Perkebunan Besar Negara dan 32.600 Ha oleh Perkebunan Besar Swasta.
Produksi kopi Indonesia didominasi kopi robusta (90%) padahal pangsa pasarnya tidak lebih 30%, sedang jenis kopi arabika yang dipasaran Internasional mempunyai pangsa pasar sekitar 70%, justru masih relatif sedikit ditanam, padahal harga jualnya relatif lebih tinggi. Kopi arabika di Indonesia dengan luasan hanya 3,6% dari luas areal kopi, sedang ditinjau letak geografisnya adalah merupakan daerah potensi tanaman kopi robusta dan arabika.

Produktivitas kopi rata-rata masih rendah, yaitu sekitar 564 Kg/Ha. Selain itu kopi Indonesia umumnya dikenal mempunyai cita rasa yang rendah. Peningkatan produksi kopi dapat dilakukan melalui intensifikasi pengelolaan kebun yang sudah ada, konversi dari komoditas lain menjadi kopi, serta pengembangan kopi di lahan baru. Upaya tersebut perlu didasari dengan pengetahuan persyaratan lahan, teknis budidaya, maupun cara pengolahan yang tepat agar diperoleh mutu hasil yang baik, sehingga pekebun dapat memperoleh harga yang tinggi. Salah satu penyebab rendahnya produksi kopi arabika di Indonesia adalah belum tersedianya bahan tanam (varietas) unggul tahan serangan penyakit karat daun, sehingga kopi arabika hanya dapat tumbuh optimal apabila ditanam di atas ketinggian 1.000 m dpl.

Kabupaten Magetan dengan luas wilayah 688,85 Km2 memiliki topografi dataran sampai pegunungan. Luas areal tanaman kopi arabika di Kecamatan Poncol tahun 2000 seluas 354,5 Ha dengan produktivitas 400 Kg/Ha, sedang total luas areal kopi arabika di Kabupaten Magetan mencapai luas 699 Ha, sedang potensi lahan yang ada sesuai agroklimat tersedia lahan pengembangan 1.131 Ha. Secara umum agroklimat di kawasan lereng Lawu khususnya Kecamatan Poncol, mempunyai karakteristik kondisi iklim sebagai berikut :
a. Elevasi (tinggi tempat) : 700 - 1.200 m dpl
b. Suhu rata – rata : 18 - 23oC
c. Curah hujan : 1.750 - 2.700 mm / tahun
d. Hari hujan : 137 - 146 hari / tahun
e. Bulan basah rata – rata : 6 - 8 bulan / tahun
Didalam pengembangan kopi arabika di Kecamatan Poncol mempunyai prospek yang baik, terutama terpenuhinya syarat tumbuh tanaman (tanah dan iklim), tersedianya lahan, sarana produksi dan tenaga kerja serta pemasaran hasil. Namun masih dijumpai berbagai kendala antara lain produksi, manajemen dan permodalan.
Agar keunggulan Kopi Arabika dapat memberikan kontribusi yang maksimal terhadap peningkatan kesejahteraan petani maka perlu kiranya dikaji hambatan dan kelemahan didalam pengembangan kopi arabika tersebut.

Mengingat tanaman kopi arabika adalah tanaman tahunan, sehingga tidak semudah tanaman semusim untuk dilakukan perubahan apabila terjadi kerugian didalam berusahataninya. Untuk itu strategi pengembangannya harus dirumuskan secara cermat agar tujuan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dapat tercapai.
Strategi pengembangan merupakan salah satu faktor yang amat penting bagi suatu pengembangan. Membuat strategi dipergunakan sebagai bijakan dan petunjuk dalam rangka mencapai tujuan dan juga memungkinkan bagi pengambil kebijakan digunakan untuk mengukur bagaimana program pengembangan yang dibutuhkan dalam menciptakan nilai pada saat ini dengan tetap mempertimbangkan kepentingan pada masa yang akan datang.
Berdasarkan uraian tersebut maka penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Strategi Pengembangan Agribisnis kopi arabika di Kecamatan Poncol, Kabupaten Magetan.



Mempelajari Kelayakan Usahatani Pembibitan Sengon (albizia falcataria) (Studi Kasus Di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo)… (PERT-106)


Suatu penelitian dilaksanakan pada bulan Nopember - Desember 2005 di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo. Jumlah responden (petani sengon) sebanyak 25 petani yang tersebar di Kecamatan Leces. Penentuan lokasi dan petani dengan metode Purposive Sampling. Metode penelitian yang digunakan adalah Metode Deskriptif dalam bentuk studi kasus. Data yang diperoleh berupa data primer dan data sekunder.
Data yang telah diperoleh dari penelitian dianalisis dengan menggunakan metode analisa deskriptif dan analisa kuantitatif. Parameter yang diukur adalah : a. penerimaan usaha tani b. Pendapatan usaha tani c. keuntungan usahatani c. Efisiensi atau layak tidaknya usaha tani.

Hasil penelitian pembibitan tanaman sengon (Albizia falcataria) di Kecamatan Leces Kabupaten Probolinggo per periode pembibitan (6 bulan) dapat disimpulkan bahwa biaya usaha tani pembibitan tanaman sengon sebesar Rp 11.150.620,-, besarnya penerimaan usaha tani pembibitan tanaman sengon sebesar Rp 20.889.600,-, keuntungan yang diperoleh petani dari usaha tani pembibitan sengon sebesar Rp 9.738.980,-. Dan usahatani pembibitan tanaman sengon sudah mencapai efisiensi usaha, dengan RCR sebesar 1,87..

Kesimpulan dari penelitian ini adalah usahatani pembibitan sengon sudah efisien. Saran yang dapat disampaikan ialah usahatani bibit tanaman sengon di Kecamatan Leces kabupaten Probolinggo dapat diteruskan, untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar daya tumbuh benih ditingkatkan, dan perlu adanya diversivikasi pengusahaan bibit tanaman yang prospektif.



Peranan Kelompok Tani Pelestari Sumberdaya Alam Dalam Konservasi Dan Pemanfaatan Hutan (Studi di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang) ... (PERT-105)


Dengan berhembusnya angin reformasi yang ditandai dengan jatuhnya kekuasaan orde baru pada tahun 1998, maka berubahlah sistem pemerintahan di negara kita yang didorong oleh suara-suara dan tuntutan dari rakyat Indonesia akan pentingnya pembagian kekuasaan antara pusat dan daerah, agar tidak terjadi kecemburuan antara Jakarta dan wilayah-wilayah yang nota benenya mempunyai potensi yang luar biasa dalam sumberdaya alamnya yang diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan penduduknya tetapi, yang terjadi adalah sebaliknya yaitu kekayaan alam yang terdapat di daerah dikeruk oleh pemerintah pusat dengan sistem yang berlaku saat itu, sedangkan daerah tersebut hanya kebagian sebagian kecil saja dari kekayaan daerahnya. Karena itulah kemudian muncul suara-suara dari daerah yang menuntut adanya otonomi daerah. Dengan semakin gencarnya tuntutan tersebut dan juga untuk mengantisipasi semakin berkem-bangnya embrio disintegrasi maka DPR sebagai pemegang amanah rakyat beru-saha mendorong inisiatif desentralisasi dan otonomi daerah, yang selama beberapa tahun terakhir terus dikampanyekan oleh para akademisi dan kalangan Ornop sebagai upaya untuk semakin mendorong iklim demokrasi dan peningkatan kese-jahteraan masyarakat di daerah.

Namun peraturan yang telah disusun tersebut memberikan kesan menga-burnya semangat otonomi daerah yang tengah dikembangkan atau bisa disebut otonomi yang setengah hati. Ditambah lagi adanya peraturan sektoral yang masih sangat bersifat sentralistis. Daerah otonom sebagaimana dimaksud dalam UU No. 22 th 1999 merupakan daerah yang berwenang dan berkewajiban untuk mengurusi sendiri urusan rumah tangganya selain beberapa urusan yang memang ditentukan sebagai urusan pemerintah pusat. Dengan demikian, selain urusan-urusan peme-rintahan, satu hal yang harus dilimpahkan atau harus menjadi urusan pemerintah dan masyarakat daerah adalah pengelolaan asset negara di daerah, seperti sumberdaya alam. Tanpa adanya kewenangan tersebut maka layaklah jika otonomi daerah di Indonesia disebut sebagai otonomi daerah yang setengah hati.

Sangatlah wajar apabila daerah-daerah di Indonesia menuntut adanya oto-nomi daerah, dengan kondisi alam yang sangat kaya akan sumberdaya alam, seharusnya penduduk/rakyat Indonesia mempunyai kesejahteraan yang tinggi. Sa-lah satu kekayaan Indonesia adalah hasil hutan, menurut data dari FWI/ GWI tahun 2001 hutan di Indonesia merupakan yang terluas dan terkaya keanekara-gaman hayatinya di dunia. Meskipun luas daratan Indonesia hanya 1,3 persen dari luas daratan permukaan bumi. Namun keanekaragaman hayati yang terkandung di dalamnya sangat tinggi, meliputi 11 persen spesies tumbuhan dunia, 10 persen spesies mamalia, dan 16 persen spesies burung. Selain itu Indonesia merupakan salah satu negara yang memiliki hutan dengan keanekaragaman tertinggi di dunia. Menurut Athoillah tahun 2003 hutan di Indonesia di huni tidak kurang dari 500 spesies mamalia, 1500 spesies burung, dan 100.000 spesies tumbuhan. Kekayaan tersebut bisa dilihat dengan membandingkan kekayaan hayati hutan di paparan Sunda yang dihuni oleh 287 spesies mamalia dan 732 spesies burung, dengan hutan sebelah barat Rusia yang besarnya empat kali hutan di paparan Sunda yang “hanya” memiliki 143 jenis mamalia dan 398 jenis burung. Oleh karenanya bagi Indonesia, hutan merupakan kekayaan yang tidak ternilai harganya.(Anonymous, 2003).

Di Jawa Timur, berdasarkan data tahun 2001 menunjukkan bahwa, dari total 1.361.448 hektare ”milik” perhutani Jatim, 812.889,5 ha merupakan hutan industri, sedangkan hutan lindung ”hanya” 315.503.3 ha dan hutan suaka alam/ta-man nasional seluas 233.053,2 ha. Menilik lebih dalam lagi kondisi hutan di kabupaten Malang, luasan hutan yang dikuasai oleh perhutani KPH Malang seluas 117.946,3 ha. Bila dibandingkan dengan luas wilayah kabupaten Malang yang 334.787 ha, maka luasan hutannya mencapai 35 persen dari luas daratan. KPH Malang terbagi menjadi dua wilayah yakni Malang barat terdiri dari daerah Ke-panjen, Singosari, Pujon dan Ngantang seluas 46.175,2 ha dan wilayah malang ti-mur terdiri dari Sengguruh, Sumber Manjing, Tumpang dan Dampit seluas 71.771,1 ha. Berdasarkan kelas perusahaan, maka Jati adalah yang terluas, yakni 45,1 % ( 42.887 ha ) diikuti oleh Pinus 29,01 % ( 27.583,3 ha ) dan Damar 25,89 % ( 24.617,9 ha ). (Anonymous, 2003).
Dan ironisnya di era otonomi daerah seperti sekarang ini muncul trend konflik baru atas kuasa pengelolaan hutan yang bersifat struktural antara penguasa hutan warisan orde baru yang tidak lain adalah perhutani, melawan pemerintah di daerah sebagaimana yang terjadi di kota Batu. Pemerintah daerah merasa bahwa dirinya mempunyai kewenangan untuk mengelola hutan sebagai bagian dari pemberian otonomi daerah versi UU No. 22/99 sementara di sisi lain, Perhutani tetap berpegang pada UU Pokok Kehutanan yang memberikan wewenang penge-lolaan hutan pada perhutani (Anonymuos, 2003). Mereka para elit stuktural lebih sibuk memikirkan bagaimana mendapatkan dan meningkatkan pendapatan bagi kelompok maupun kepentingan pribadinya, tanpa memikirkan kepentingan masyarakat kecil khususnya masyarakat desa sekitar hutan dan laju kerusakan hutan di wilayah kekuasaannya yang semakin hari semakin mengkhawatirkan, sedangkan bencana alam yang disebabkan oleh kerusakan lingkungan hutan telah terjadi berulang-ulang.

Ternyata pemerintah sampai saat ini masih saja menutup telinga akan pentingnya konservasi hutan dengan cara bekerja sama antara pemerintah daerah dan masyarakat desa hutan yang di dalamnya terdapat kelompok tani hutan. Padahal pentingnya pemberdayaan masyarakat desa sekitar hutan telah diatur dalam Undang-Undang, Peraturan Pemerintah dan Keputusan Menteri. Karena itulah dianggap perlu untuk diadakan penelitian yang membahas peranan kelompok tani hutan dalam konservasi hutan di kabupaten Malang. Dari penelitian ini, diharapkan pemerintah semakin memahami dan segera menindaklanjuti dengan menetapkan kebijakan yang lebih memperkuat kedudukan kelompok tani tersebut dalam keikutsertaannya dalam mengelola hutan di wilayah tinggalnya



Stategi Pengembangan Agroindustri Minyak Kenanga ( Canangium odoratum) ( Studi Kasus di Desa Kebonduren Kecamatan Ponggok Kabupaten )… (PERT-104)


Telah dilakukan penelitian studi kasus pada agroindustri rumah tangga minyak kenanga (Canangium odoratum) di Desa Kebonduren Kecamatan Srengat Kabupaten Blitar. Tujuan dari studi kasus ini adalah untuk menegetahui strategi pengembangan agroindustri rumah tangga minyak kenanga dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap agroindustri minyak kenanga. Data yang dikumpulkan berupa data primer dan sekender melalui wawancara, pengamatan langsung, dokumentasi dan kuisioner. Dengan mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh terhadap agroindustri dan strategi apa yang tepat maka dilakukan dengan analisis SWOT. Dari analisis diperoleh bahwa faktor yang berpengaruh terhadap agroindustri adalah faktor internal yang meliputi kekuatan dan kelemahan dari agrondustri itu sendiri sedangkan faktor Eksternal yang meliputi peluang dan ancaman. Strategi yang diperlukan adalah strategi S-O dengan jalan melaksanakan strategi integrasi vertikal.


Case study research wos done in canangium odoratum oil home agroindustry has been done in Kebonduren village Ponggok Subdistrict Blitar Regency. The goal of the case study is to know development strategy of canangium odoratum oil home agroindustry by knowing the influence factor on canangium odoratum oil agroindustry. The result data are primary and secandary data with interview direct observation, dokumentation and quesioner. By this, we use SWOT analysis for getting accurate thing. From the analysis is got the influence factor on agroindustry is intern factor covers strenghness and weakness of this agroindustry itself, and the extern factor covers opportunity and treatment. The strategy that us needed is S-O by doing vertical integration strategy.



Strategi Pengembangan Tanaman Jati (Tectona Grandis Linn) Dengan Pola Agribisnis Hutan Rakyat Di Ds Pamatan Kec Tongas Kab Probolinggo … (PERT-103)


Penelitian dilaksanakan di desa Pamatan Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui saluran pemasaran kayu jati, mengetahui margin pemasaran kayu jati dan mengetahui kinerja pemasaran kayu jati di Desa Pamatan Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo.
Hasil penelitian tanaman jati di desa Pamatan Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dapat disimpulkan bahwa saluran pemasaran kayu jati di Desa Pamatan Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo adalah petani (Produsen), pedagang pengepul dan konsumen (Pabrik) margin pemasaran kayu jati di Desa Pamatan Kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo di tingkat petani sebesar Rp. 2.500.000,- dan di tingkat pengepul Rp. 3.000.000,- pengepul menjual ke pabrik Rp. 3.500.000,- ini untuk golongan kayu jati kelas A3. kinerja pemasaran kayu jati di desa Pamatan kecamatan Tongas Kabupaten Probolinggo dikatakan sudah efisien, walau masih ada yang belum efisien seperti dana promosi, jumlah pembeli yang sedikit (cenderung monopoli) dan penentu harga oleh pedagang pengepul. Efisiensi sudah tercapai dengan share harga sebesar 75 % (lebih besar 40 %).
Dari kesimpulan diatas dapat disarankan bahwa untuk memperoleh keuntungan dari efisiensi dalam pemasaran kayu jati perlu diusahakan, petani perlu mencari pasar lain, tidak harus ke pengepul, sehingga harga bisa kompetitif.



Analisis Efisiensi Usahatani Tanaman Sengon Laut (Albazia falcataria) (Studi di Desa Pondok Agung Kecamatan Kasembon Kabupaten Malang) … (PERT-102)


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan besarnya biaya, produksi, penerimaan dan keuntungan usahatani sengon laut. Penelitian ini di fokuskan pada identifikasi efisiensi usaha yang diukur dengan Revenue Cost ratio (RCR).
Penelitian ini dilakukan di desa Pondok Agung kecamatan Kasembon kabupaten Malang pada bulan Oktober 2005.

Sampel diambil secara acak sederhana (simple Random Sampling) sebanyak 20 orang dari populasi 63 orang petani sengon laut di desa Pondok Agung. Penelitian bersifat deskriptip sehingga hanya menggunakan satu variabel mandiri tanpa membuat strata untuk diperbandingkan. Uji yang digunakan adalah t test dengan dk = 19 dan tingkat kepercayaan 95% atau  = 0,05 pada uji satu sisi sebelah kanan. Dari tabel analisis diperoleh data sebagai beikut :

t hitung ternyata lebih besar dari pada t tabel yaitu 28,57 > 1,729 sehingga Ho ditolak atau Ha diterima. Oleh karena itu hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :
1. Usahatani sengon di desa Pondok Agung kecamatan Kasembon kabupaten Malang ternyata cukup menguntungkan. Hal ini dapat diindikasikan RCR telah mencapai 2,98 (layak). Sehingga Ho yang menyatakan efisiensi usaha baru mencapai paling besar sama dengan 1 (satu) ternyata tidak terbukti
2. Besarnya biaya tetap ternyata jauh lebih tinggi dibandingkan biaya variabelnya. Hal ini menguntungkan petani karena biasanya biaya tetap tidak dikeluarkan secara riil sehubungan dengan kepemilikannya sendiri, misalnya sewa tanah.
3. Keuntungan yang diperoleh per ha sebesar Rp.22.101.088,- yang diperoleh selama dua kali pemanenan yaitu pada tahun ke-III (masa penjarangan) dan masa panen akhir (total) pada tahun ke-VI. Pemanenan pada tahun ke-III memberi peluang kepada petani untuk memperoleh hasil sebelum menanti panen akhir. Hal ini sangat membantu likwiditas petani.



Analisis Usaha Ternak Domba Ekor Gemuk Studi Dengan Menggunakan Pakan Konsentrat di Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember … (PERT-101)


Penelitian dilakukan di Desa Karangpring Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember pada bulan Pebruari 2006 sampai dengan April 2006. Penelitian bertujuan untuk mengetahui macam biaya, besarnya biaya, pertambahan berat badan dan populasi setelah proses penggunaan pakan konsentrat. Sampel diambil sebanyak 30 orang dari populasi sebanyak 61 orang dengan cara simple random sampling.

Hasil penelitian sebagai berikut :
Biaya yang diperlukan untuk usaha ternak domba ekor gemuk selama 1 periode adalah Biaya variabel terdiri atas induk domba, pejantan domba, pakan konsentrat, hijauan pakan ternak, dan obat untuk pemilikan sebesar Rp Rp 95.292.000. Sedang biaya tetap termasuk di dalamnya tenaga kerja ahli, tenaga kerja kasar, pembuatan kandang dan pelatihan peternakan sebesar Rp 13.950.000,-. Biaya total sebear Rp 109.242.000,-.
Penerimaan terdiri atas penerimaan utama berupa penjualan induk domba, pejantan domba dan anakan ke 1 dan anakan ke 2 serta nilai sisa kandang pada akhir periode sebesar Rp 174.700.000,-

Kelayakan usaha mencapai 1,599 sehingga dapat dikatakan cukup layak dan usaha penggemukan ini hanya sebagai usaha sampingan dari usahatani yang utama yaitu usahatani tanaman pangan.



Analisis Efisiensi Usahatani Jagung ( Zea Mays L ) dengan Menggunakan Benih Hibrida… (PERT-100)


Penelitian dilakukan di desa Karangpring kecamatan Sukorambi kabupaten Jember pada bulan November 2005 sampai dengan Januari 2006. Penelitian bertujuan untuk mengetahui macam biaya dan besarnya biaya, penerimaan dan keuntungan yang diperoleh usahatani jagung yang menggunakan benih hibrida. Dalam penelitian ini benih jagung hibrida yang dipilih adalah jenis NK 33. Penelitian ditujukan juga untuk mengetahui perbedaan tingkat efisiensi usaha antara usahatani yang menggunakan benih jagung hibrida yang selanjutnya disebut kelompok A dengan yang menggunakan benih jagung lokal yang selanjutnya disebut kelompok B. Sampel diambil sebanyak 30 orang untuk kelompok A dan 30 orang untuk kelompok B dari populasi petani jagung sebanyak 102 orang yang biasa menanam jagung di lahan tegal.

Hasil penelitian menghasilkan fakta sebagai berikut (per ha), untuk kelompok A, biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp 3.539.190. Produksi yang dicapai 11.210 kg dengan nilai penerimaan Rp 6.165.670., pendapatan yang diperoleh sebesar Rp3.746.490 dan keuntungan yang dicapai sebesar Rp 2.626.478. Kelayakan usaha sebesar 1,74 mengindikasikan bahwa usahatani jagung dengan menggunakan benih hibrida memberikan keuntungan yang layak (efisien).

Untuk kelompok B, biaya total yang dikeluarkan sebesar Rp 3.059.000, produksi yang dicapai hanya 7065,76 kg dengan nilai penerimaan sebesar Rp 3.886.173. Pendapatan yang diperoleh sebesar Rp 1.947.173 dan keuntungan yang dicapai sebesar Rp 827.173. Kelayakan usaha sebesar 1,27 meskipun lebih dari satu tetapi efisiensi ini masih tergolong kecil.

Hasil analisis statistik dengan uji t pada dk= 58 dan tingkat kesalahan 5% ditemukan bahwa t hitung > t tabel (25,91 > 2). Hal ini berarti hipotesis yang menyatakan tidak terdapat perbedaan antara tingkat efisiensi usahatani pengguna benih jagung hibrida dengan tingkat efisiensi usahatani pengguna benih jagung lokal harus ditolak. Jadi memang terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat efisiensi usahatani di antara dua kelompok tersebut. Oleh karena memberikan keuntungan yang lebih besar, maka dianjurkan kepada petani untuk beralih dari penggunaan benih jagung lokal ke benih jagung hibrida.



Penggunaan Power Thresher dalam Upaya Memperoleh Nilai Tambah Hasil Panen Padi Sawah ( Studi di Kel. Kebonagung Kec. Kaliwates Kab. ) … (PERT-99)


Penelitian dilakukan di kelurahan Kebonagung kecamatan Kaliwates kabupaten Jember pada bulan November sampai dengan bulan Maret 2006. Penelitian ditujukan untuk mengetahui besarnya biaya, produksi, harga, penerimaan, pendapatan, keuntungan dan tingkat efisiensi dari dua kelompok yang kan dibandingkan. Kelompok yang dibandingkan adalah kelompok petani yang menggunakan power thresher pada saat proses perontokan gabah hasil panen selanjutnya disebut kelompok A. Kelompok yang lain adalah kelompok petani yang menggunakan cara banting (tradisional) dalam merontokkan gabah hasil panennya, selanjutnya disebut kelompok B. Pengambilan sampel secara random sebanyak 30 orang untuk kelompok A dan 30 orang untuk kelompok B. Setiap kelompok diukur tingkat kelayakan usahanya dan kemudian dibandingkan untuk mengetahui adakah perbedaan tingkat efisiensi antara kelompok A dengan kelompok B. Hasil penelitian menemukan fakta-fakta sebagai berikut : Untuk kelompok A per ha memerlukan biaya total Rp 5.505.660. Produksi yang dicapai 5.820,2 kg dengan harga Rp 1.800/kg sehingga besarnya penerimaan Rp 10.476.398. Pendapatan kotor sebesar Rp 6.738.273 dan keuntungan usaha sebesar Rp 4.970.739.

Kelayakan usaha diukur dengan nilai RCR (Revenue Cost Ratio), untuk kelompok A ditemukan sebesar RCR = 1,902, sehingga nilai ini mengindikasikan bahwa usahatani padi sawah dengan menggunakan power thresher saat perontokan gabah dapat dikatakan cukup layak. Untuk kelompok B per ha memerlukan biaya total Rp 5.629.350. Produksi yang dicapai 5.672,69 kg dengan harga Rp 1.750/kg sehingga besarnya penerimaan Rp 9.927.218. Pendapatan kotor sebesar Rp 6.062.295 dan keuntungan usaha sebesar Rp 4.297.866.

Kelayakan usaha diukur dengan nilai RCR (Revenue Cost Ratio), untuk kelompok B ditemukan sebesar RCR = 1,760 sehingga nilai inipun dianggap cukup layak. Meskipun demikian tingkat efisiensi usaha kelompok B lebih kecil dibanding dengan tingkat efisiensi kelompok A yang dapat mencapai 1,902. Analisis statistik menunjukkan bahwa dengan uji t ditemukan bahwa t hitung > t tabel (8,5025 > 2,045) dengan dk = 29 dan tingkat kesalahan 5% uji dua arah. Oleh karena itu Ho yang menyatakan tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi antara kelompok A dan tingkat efisiensi usahatani kelompok B ditolak. Artinya memang terdapat perbedaan tingkat efisiensi usaha di antara ke duanya secara signifikan. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa power thresher dapat memberi kontribusi yang cukup berarti dalam rangka meningkatkan keuntungan usahatani padi sawah. Unsur-unsur yang mendukung peningkatan keuntungan adalah kecepatan proses perontokan dan pembersihan sehingga menghemat waktumri Lebih penting lagi power thresher terbukti dapat mengurangi kehilangan gabah saat perontokan dan mengurangi kerusakan (pecah) butir gabah sehingga petani memperoleh nilai tambah dalam usahataninya.



Analisis Usaha Penggemukan Ternak Sapi Potong Hasil Inseminasi Buatan Studi di Kecamatan Panti Kabupaten Jember … (PERT-98)


Penelitian dilakukan di Kecamatan Panti Kabupaten Jember pada bulan Pebruari 2006 sampai dengan April 2006. Penelitian bertujuan untuk mengetahui macam biaya, besarnya biaya, pertambahan berat badan setelah proses penggemukan sapi potong dari hasil inseminasi buatan. Penggemukan dilakukan selama 180 hari dengan menggunakan hijauan pakan ternak (sebagian besar rumput), ampas tahu dan “tumpi jagung”. Sampel diambil sebanyak 30 orang dari populasi sebanyak 61 orang dengan cara simple random sampling.

Sapi bakalan yang digemukkan berumur 7 bulan berkelamin jantan dengan alasan bahwa sapi telah lepas sapih, sehingga berat badan menurun. Pada saat inilah peternak dapat membeli bakalan yang relatif lebih murah karena harga bakalan berdasarkan timbangan berat hidup yaitu Rp 18.500 per kg.
Hasil penelitian sebagai berikut :
Biaya yang diperlukan untuk penggemukan adalah biaya variabel yang terdiri atas pakan hijauan, ampas tahu, tumpi jagung dan obat ternak semuanya senilai Rp 5.823.116 untuk rata-rata pemilikan 1,33 ekor. Biaya tetap terdiri atas tenaga kerja, sewa lahan, depresiasi kandang adan alat serta bunga pinjaman sebesar Rp 589.590 , sehingga biaya total Rp 6.412.756.

Pertambahan berat badan selama 180 hari proses penggemukan sebesar 190,204 kg, yaitu berasal dari bobot awal rata-rata 266,12 kg dan bobot akhir 456,324 kg. Penerimaan utama berupa bobot hidup sebesar Rp 8.442.000 ditambah penerimaan sampingan (pupuk kandang) sebesar Rp 23.900 sehingga peneri,aam total Rp 8.456.900. Dari penerimaan dan biaya yang telah dikeluarkan dapat dihitung keuntungan usaha sebesar Rp 2.053.144. Jadi per ekor sapi selama 180 hari dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 1.540.243.
Kelayakan usaha mencapai 1,320 sehingga dapat dikatakan cukup layak dan usaha penggemukan ini hanya sebagai usaha sampingan dari usahatani yang utama yaitu usahatani tanaman.

Uji signifikan menunjukkan t hitung ( 6,1315 ) lebih besar dari t tabel ( 1,699 ) pada dk = 29 dan tingkat kesalahan 5%, (uji satu pihak), maka Ho yang menyatakan bahwa tingkat efisiensi usaha penggemukan sapi potong dari hasil inseminasi paling kecil RCR = 1,2 harus diterima dan hal ini secara signifikan berlaku bagi seluruh populasi dari mana sampel diambil.



Analisis Komparasi Usaha Pengolahan Sari Apel di CV Bromo Semeru dan CV Nusa Agro Industri Kota Batu”…(PERT-97)



Salah satu komoditas pertanian yang terkenal di Kota Batu adalah apel. Apel (Malus syvestriss Mill) merupakan bahan baku yang digunakan dalam usaha pengolahan sari apel. Usaha pengolahan sari apel ini lebih banyak menggunakan apel sortiran (apel dengan kualitas rendah) kemudian diolah menjadi minuman sari apel dengan nilai jual yang lebih tinggi, sehingga mampu memberikan keuntungan bagi para pengusahanya dan dapat memberikan lapangan kerja. Jenis apel yang digunakan dalam usaha ini adalah apel rome beauty dan apel manalagi. Usaha pengolahan sari apel merupakan usaha skala kecil (skala rumah tangga).

Penelitian ini bertujuan: (1) Untuk mengetahui proses produksi pengolahan sari apel, (2) Untuk mengetahui perbandingan usaha pengolahan sari apel yang menggunakan jenis apel rome beauty dengan apel manalagi dilihat dari biaya, penerimaan, keuntungan, produksi, harga jual, tingkat efisiensi dan tingkat kelayakannya, (3) Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang menjadi kendala dalam usaha pengolahan sari apel.

Penelitian ini dilakukan pada usaha pengolahan sari apel pada CV Bromo Semeru dan CV Nusa Agro Industri di Kota Batu. Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa usaha pengolahan sari apel ini merupakan usaha yang sedang berkembang. Data yang digunakan adalah data sekunder yaitu data biaya, produksi, penerimaan, keuntungan dan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan pengambilan dokumentasi peralatan serta produknya dari tempat penelitian. Adapun analisa yang digunakan adalah biaya, penerimaan, keuntungan, efisiensi (R/C ratio) dan kelayakan (B/C ratio).



Analisis Komparasi Usaha Tani Tebu Dengan Aplikasi Pupuk “Organik” Dan Pupuk An-Organik… (PERT-96)


Dalam menghadapi semakin langka dan mahalnya harga pupuk dipasaran mengakibatkan para petani tebu melakukan langkah-langkah alternatif yang dapat mengurangi tingginya biaya dalam membudidaya tanaman tebu. Langkah yang diambil para petani antara lain dengan cara mengubah sistem pertanian an-organik menjadi semi organik, yaitu dengan cara mengurangi jumlah pupuk jadi dan kekurangannya digantikan dengan pupuk kandang atau dengan pupuk hijau daun.

Tujuan Penelitian adalah 1. Untuk mengetahui bagaimana penerapan teknologi pemupukan dengan pupuk organik dan an-organik. 2. Untuk mengetahui bagaimana perbandingan struktur biaya, produksi, pendapatan usaha tani antara penerapan teknologi pemupukan dengan pupuk organik dan an-organik pada tanaman tebu.
Batasan masalah dalam usaha tani tebu dengan pemupukan semi organik ini sudah tergolong usaha tebu dengan pupuk organik. Untuk tanaman tebu apabila menggunakan pupuk organik murni hasilnya tidak maksimal.
Metode penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja dikecamatan Kandat kabupaten Kediri. Dengan pertimbangan bahwa didaerah tersebut banyak petani tebu. Metode penentuan sampel dilakukan secara sensus, dengan pertimbangan karena jumlahnya kurang dari 30 jiwa.

Berasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa dalam usaha tani tebu semakin besar biaya produksi dengan luas lahan yang sama maka semakin besar pula tingkat pendapatan, dalam hal ini adalah usaha tani tebu organik yang dapat dilakukan secara berkelanjutan dan lebih baik.



Analisis Usaha Pada Pengolahan Produk Gula Kacang” (Studi kasus di Desa Takeran Kec. Takeran Kab. Magetan)…(PERT-95)



Kacang tanah merupakan salah satu dari komoditi pertanian yang termasuk tanaman palawija. Kacang tanah memiliki peran yang cukup penting dalam kehidupan manusia atara lain sebagai salah satu komoditi pangan yang memiliki nilai gizi yang cukup tinggi sehingga memiliki potensi yang cukup bagus untuk dikembangkan. Sebagai salah satu dari tanaman palawija, kacang tanah amat potensial dalam pengembangan program Nasional peningkatan produksi kacang-kacangan, sebagai sumber protein nabati serta bahan penganekaragaman pangan penduduk. Kacang tanah dapat diolah menjadi berbagai produk olahan, yang salah satunya yaitu produk “gula kacang”. Pengolahan kacang tanah menjadi produk gula kacang mempunyai arti penting dalam menambah pendapatan keluarga dan memperbaiki ekonomi rumah tangga. Salah satu daerah yang terdapat usaha pengolahan produk gula kacang yaitu Desa Takeran Kecamatan Takeran Kabupaten Magetan.
Tujuan dari peneltian ini adalah (1) untuk mengetahui proses pengolahan produk gula kacang, (2) untuk mengetahui masalah/kendala dalam usaha produk gula kacang, (3) untuk mengetahui biaya dan pendapatan usaha pengolahan produk gula kacang, (4) untuk mengetahui produksi dan harga impas pada usaha produk gula kacang, dan (5) untuk mengetahui besarnya efisiensi usaha pengolahan produk gula kacang. Dalam penelitian ini penentuan daerah dilakukan secara sengaja dengan pertimbangan bahwa di desa Takeran Kec. Takeran Kab. Magetan terdapat usaha pengolahan produk gula kacang. Metode pengambilan data dilakukan dengan dua cara yaitu data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari wawancara secara langsung dengan bantuan kuesioner yang sudah disiapakan, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi yang terkait yang dapat menunjang kelengkapan data primer serta dari literatur atau pustaka. Penentuan responden dilakukan dengan metode sensus, yaitu dengan mengambil semua responden yang ada di daerah penelitian.

Dari hasil penelitian, bahwa proses pengolahan produk gula kacang adalah; memasukkan semua bahan kedalam kwali dengan air ± 1 liter kemudian direbus dalam waktu ± 30 menit. Setelah masak langsung dicetak dan ditiriskan, kemudian jadilah produk gula kacang dan langsung dilakukan pengemasan. Adapaun masalah yang dihadapai oleh pemilik usaha rata-rata yaitu masalah harga-harga bahan baku yang tidak stabil, masalah masih minimnya modal, serta masalah dalam hal pemasaran.
Dari hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata biaya total yang dikeluarkan per satu kali proses produksi sebesar Rp 517.677, dimana terdiri dari biaya variabel dan biaya tetap. Biaya tetap dalam usaha produk gula kacang ini yaitu penyusutan alat sebesar Rp 2.513, sedangkan biaya variabel sebesar Rp 515.164 yang terdiri dari biaya bahan baku, biaya tenaga kerja, pengemasan, transportasi, dan bahan bakar (kayu bakar). Rata-rata penerimaan (pendapatan kotor) per satu kali proses sebesar Rp 570.228, sedangkan pendapatan bersih sebesar Rp 52.551. Adapun untuk besarnya produksi impas yaitu 593 bungkus, sedangkan besarnya produksi rata-rata sebesar 653 bungkus yang berada di atas produksi impas. Sedangkan harga jual rata-rata sebesar Rp 900, dimana berada di atas harga impas yaitu Rp 817. Dari hasil analisis bahwa usaha pengolahan produk gula kacang di Desa Takeran menguntungkan. Hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai R/C ratio rata-rata > 1, yaitu sebesar 1,10%. Ini berarti bahwa setiap pengeluaran sebesar Rp 100, maka akan diperoleh pendapatan sebesar Rp 110. Dengan demikian maka usaha pengolahan produk gula kacang tersbut layak diusahakan dan sangat baik untuk dikembangkan.


Analisa Perbandingan Pendapatan Petani Kedelai Anggota APKKI dan Non-Anggota APKKI” (Studi Kasus di Kecamatan Pilang Kenceng Kab Madiun)...(PERT-94)


Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan besarnya biaya, produksi, penerimaan dan pendapatan yang diperoleh petani anggota APKKI dan non-anggota APKKI. Apakah pendapatan yang diperoleh petani anggota APKKI lebih besar daripada petani non-anggota APKKI.

Penelitian ini dilakukan secara sengaja (purposive) di wilayah Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun dengan pertimbangan bahwa daerah tersebut mempunyai luas areal tanaman kedelai yang paling luas dan jumlah kelompok tani yang menanam paling banyak diantara kecamatan lainnya se-Kabupaten Madiun.

Metode penentuan sampel yang digunakan adalah cluster sampling karena sampel diambil dari pengelompokan-pengelompokan sejumlah 35 kelompok tani. Responden yang diambil mewakili kelompoknya yaitu untuk responden petani anggota APKKI adalah ketua kelompok tani tersebut, sedangkan responden petani non-anggota APKKI diambil 35 responden anggota kelompok tani yang mewakili non-anggota APKKI.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata biaya total (TC) yang dikeluarkan untuk usaha tani kedelai oleh petani anggota APKKI sebesar Rp. 3.484.554,3/hektar yang terdiri dari benih sebesar Rp. 266.686, Pupuk Organik Majemuk (POM) sebesar Rp 609.440, pestisida sebesar Rp. 231.000, tenaga kerja sebesar Rp. 1.377.428,57 dan untuk sewa tanah sebesar Rp. 1.000.000. Sedangkan untuk petani non-anggota APKKI harus mengeluarkan rata-rata biaya total (TC) sebesar Rp. 3.479.417,1/hektar yang terdiri dari benih sebesar Rp. 169.486, Pupuk Organik Majemuk (POM) sebesar Rp. 591.474,3, pestisida sebesar Rp. 183.171,4 tenaga kerja sebesar Rp. 1.535.285,71 dan sewa lahan sebesar Rp. 1.000.000.
Produksi rata-rata yang diperoleh petani anggota APKKI sebanyak 2035,34 kg/hektar dengan penerimaan rata-ratanya sebesar Rp. 6.106.028,57 sedangkan petani non-anggota APKKI memperoleh rata-rata produksi hanya sebanyak 1514 kg/hektar dengan penerimaan rata-rata hanya sebesar Rp. 4.239.200.

Dari rata-rata biaya total dan rata-rata penerimaan per hektar petani anggota APKKI diperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp. 2.621.474,3 sedangkan petani non-anggota APKKI diperoleh rata-rata pendapatan sebesar Rp. 759.782,86. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan uji t diperoleh nilai t hitung sebesar 4,918 dengan taraf kepercayaan 5% diperoleh t tabel sebesar 1,676. Bararti nilai t hitung > t tabel sehingga H 1 diterima, diperoleh kesimpulan bahwa tingkat pendapatan petani anggota APKKI lebih besar daripada petani non-anggota APKKI.

Kendala dan alasan yang di ungkapkan oleh keseluruhan petani baik anggota APKKI maupun non-anggota APPKI di Kecamatan Pilang Kenceng Kabupaten Madiun ini adalah modal. Faktor modal yang menentukan mereka dalam memilih benih yang akan mereka tanam.



Analisis Strategi Pemberdayaan Masyarakat Agribisnis Melalui Penguatan Modal Usaha Kelompok Tani Di Kabupaten Blitar…(PERT-93)



Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Blitar dengan mengambil sampel sasaran pada kelompok tani di Kabupaten Blitar sebanyak 60 responden dari 637 populasi kelompok tani yang tersebar di 22 kecamatan se-kabupaten Blitar.

Tujuan penelitian ini adalah : (1) untuk menjelaskan dan menganalisa upaya yang dilakukan oleh Dinas Pertanian dalam memberdayakan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten Blitar, (2) untuk menjelaskan dan menganalisa proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani di Kabupaten Blitar, (3) untuk menjelaskan dan menganalisa dampak dari upaya pemberdayaan masyarakat agribisnis penguatan modal usaha kelompok tani dilihat dari tingkat kesejahteraannya.

Penelitian termasuk dalam penelitian “Discriptif Explanatory” dimana peneliti berusaha menjelaskan dari kejadian yang diteliti secara seksama dengan memakai alat analisa SWOT yaitu suatu analisa strategi dengan dasar pada logika dengan memaksimalkan faktor kekuatan dan peluang namun secara bersamaan bisa meminimalkan kelemahan dan ancaman yang datang dari luar.

Hasil analisis SWOT diperoleh bahwa : dengan melakukan tiga tahapan pengujian SWOT yaitu : (1) Matrik IFAS Dan EFAS, (2) Matrik SWOT dan (3) Analisis penentuan Strategi diperoleh hasil bahwa strategi yang paling mendekati cocok dan memiliki skor paling besar dalam pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani ialah menggunakan strategi SO ( Strength Opportunities ) yaitu strategi yang menggunakan kekuatan dengan memanfaatkan peluang yang ada, dengan bentuk pelaksanaan berupa : (1) peningkatan produktifitas agribisnis dengan mempererat kemitraan masyarakat agribisnis / kelompok tani, (2) pengembangan usaha agribisnis didukung dengan peningkatan kualitas personal, (3) perluasan kawasan produksi yang diimbangi dengan peningkatan distribusi produksi pertanian keluar daerah, (4) memperkuat institusi pengelola program degan meningkatkan pengetahuan tentang hukum dan peraturan pada masyarakat, (5) peningkatan kualitas sumber daya manusia serta memupuk jiwa wirausaha, sehingga diharapkan dengan menerapkan strategi tersebut maka proses pemberdayaan masyarakat agribisnis melalui penguatan modal usaha kelompok tani dapat mencapai sasaran yang diharapkan yaitu meningkatkan daya guna dan hasil guna kelompok tani di Kabupaten Blitar.


Pengaruh Motivasi Terhadap Perilaku Kerja Petani Tebu (Studi di Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri) … (PERT-92)


Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh motivasi berpengaruh terhadap perilaku kerja petani tebu. Penelitian dilaksanakan di Kecamatan Gurah Kabupaten Kediri pada bulan Agustus – Oktober 2005. Jenis survei dengan mengamati dua faktor, motivasi dan perilaku kerja. Faktor pertama motivasi yang terdiri dari 2 variabel intern dan ekstern sedangkan perilaku terdiri dari dua variabel yaitu sikap dan pengambilan keputusan. Peubah motivasi intern terdiri dari tujuan (X11), pendidikan (X12), pengalaman (X13), peubah motivasi ekstern terdiri dari harga (X21), dukungan keluarga (X22), dukungan pemerintah (X23), status kepemilikan tanah (X24), luas lahan (X25), ketersediaan air (X26), dan musim (X27). Peubah sikap terdiri dari kreatifitas (LY11) dan inivatif (LY12), peubah pengambilan keputusan terdiri dari pengambilan keputusan rasional (LY21) dan tidak rasional (LY22). Pengukuran peubah dengan menggunakan skala interval dan skala rasio dengan skor 1-4.

Teknik pengambilan sampel menggunakan metode sampel area. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, kuisioner dan studi dokumentasi. Model analisis yang digunakan adalah analisis faktor, regresi dan korelasi.
Hasil penelitian menunjukkan motivasi tidak memberikan pengaruh nyata terhadap sikap kreatifitas, tetapi memberikan pengaruh nyata terhadap sikap inovatif petani. Motivasi memberikan pengaruh nyata terhadap pengambilan keputusan rasional maupun keputusan tidak rasional.



Analisis Kinerja Program Pembelian Gabah Oleh Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan Di Kabupaten Malang” ... (PERT-91)


Peningkatan jumlah penduduk di Indonesia, khususnya Jawa Timur mengundang banyak pertanyaan apakah penyediaan bahan pangan (gabah) oleh pemerintah mampu memenuhi kebutuhan penduduknya, padahal bersamaan dengan itu pula penyempitan lahan subur akibat perluasan wilayah industri dan perkotaan menjadi penghambat pemenuhan produksi pangan.

Produksi pangan seperti padi, jagung, kedelai dan tanaman bahan pangan yang lain sangat dipengaruhi oleh faktor iklim dan musim. Pada saat panen raya, jumlah produksinya tinggi dan melebihi jumlah permintaan, sehingga menyebabkan harga jual ditingkat produsen menjadi sangat rendah. Sebaliknya, pada musim paceklik ketersediaan pangan ditingkat produsen sangat rendah, sehingga harga hasil produksi menjadi tinggi. Fluktuasi harga seperti itu dapat mempengaruhi pendapatan petani sebagai produsen bahan pangan. Petani tidak mendapatkan pendapatan yang lebih tinggi pada saat panen sehingga peristiwa seperti itu dapat menurunkan kesejahteraannya.
Untuk mengetahui Dampak Program Pembelian Gabah Pada Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan di Kabupaten Malang maka dilakukan kajian yang secara khusus bertujuan untuk: Menganalisa program pembelian gabah ditinjau dari indikator (1) masukan (in-put) yang meliputan ketepatan lembaga pembeli gabah, jumlah dana, kesesuaian jumlah dana dengan kebutuhan masing-masing lembaga pembeli gabah, ketepatan waktu pencairan dana dengan waktu over suply gabah, ketepatan jumlah dana yang diterima lembaga pembeli gabah, dan ketepatan penggunaan dana oleh lembaga pembeli gabah, indikator (2) proses yang meliputi proses seleksi lembaga pembeli gabah, mekanisme penggunaan dana, mekanisme pengembalian dana, mekanisme pembelian gabah oleh lembaga pembeli gabah, serta mekanisme monitoring dan evaluasi, (3) output yang meliputi volume pembelian di tingkat lembaga, di tingkat kabupaten, dan tingkat pengembalian lunas tepat waktu. Indikator (4) outcome yang meliputi harga yang diterima petani di daerah sasaran dan perkembangan usaha lembaga pembeli gabah, indikator (5) benefit yaitu fluktuasi harga pangan dan perkembangan agribisnis pangan serta dari indikator (6) dampak yaitu peningkatan pendapatan petani.

Penelitian analisis kinerja pemebelian gabah ini adalah semua lembaga pembeli gabah yang ditunjuk mengadakan pembalian gabah untuk tahun anggaran 2001-2004. Lembaga pembeli gabah yang dimaksud adalah Koperasi Unit Desa (KUD), Koperasi non KUD, Koperasi Tani, dan Rice Milling Unit (RMU). Populai penelitian evaluasi kinerja juga memasukkan petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang ada di Kabupaten Malang.
Populasi penelitian ini adalah Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP) yang mendapat bantuan dari dana APBD atau APBN. Lembaga yang dimaksud adalah lembaga yang ditunjuk dan atau lembaga yang dalam usahanya adalah melakukan pengadaan atau pembelian gabah pada petani yang telah disebutkan diatas. Populasi yang akan diambil adalah lembaga yang telah mendapatkan bantuan dan ditunjuk sebagai pelaksana program pembelian gabah di Kabupaten Malang. Adapun lembaga yang ditunjuk antara lain adalah KUD Karangploso, KUD Pakis, KUD Pakisaji, Koptan Padita Tumpang dan Koptan Mitra Tani Tajinan.

Tahapan analisis data mulai pengolahan data yang meliputi : (1) Pengkodean. Tahapan ini untuk memudahkan proses komputasi dan analisis serta tabulasi data. (2) Tabulasi. Data diringkas dalam bentuk format tabel untuk memudahkan manajemen data, dan (3) Editing data. Pemeriksaan data untuk menelusuri terjadi atau tidaknya penyimpangan atau identifikasi adanya data outlier (data pencilan).
Analisis data dilakukan melaui tahapan : (a)Analisis diskriptif kuantitatif, seperti prosentase, tampilan diagram, rataan, standart deviasi, prosentase keberhasilan (input, proses dan dampak), dan lain-lain. Serta (b) Analisis diskriptif kualitatif, pemberian makna atas angka hasil anlisis kuntitatif, dan makna-makna data kualitatif atas hasil wawancara.

Berdasarkan analisis data, kajian ini dapat memberikan beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1. Program pembelian gabah / bahan pangan lain yang dilakukan oleh Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Malang terbukti dapat meningkatkan penerimaan usahatani bagi petani yang bekerjasama dengan lembaga pembeli gabah yang mendapatkan dana pembelian gabah / bahan pangan lain.
2. Pelaksanaan program pembelian gabah / bahan pangan lain di Kabupaten Malang dapat terlaksana dengan baik bila dilihat dari ketepatan pemilihan lembaga pembeli yang diberi dana walaupun dalam beberapa kasus ditemui lembaga pembeli yang kurang berkait erat dengan petani secara langsung. Program pembelian gabah ini telah mendorong, menghidupkan, dan memfasilitasi kegiatan ekonomi kelompok tani.
3. Lembaga pembeli gabah/bahan pangan lain melakukan kerjasama dengan petani atau kelompok tani tetapi ada juga lembaga pembeli gabah / bahan pangan lain yang membeli dari tengkulak.
4. Program pembelian gabah/bahan pangan lain menimbulkan dampak positif pada lembaga pembeli gabah seperti : (1) Peningkatan uang kas, (2) peningkatan pemilikan dan kualitas sarana transportasi, (3) perluasan lantai jemur, (4) perbaikan kualitas lantai jemur, (5) perbaikan kualitas RMU, (6) penambahan kapasitas gudang, (7) perbaikan kualitas gudang.
5. Selama proses, program pembelian gabah menimbulkan hal positif yang dapat diamati seperti berkurangnya proporsi petani yang menjual pada tengkulak dan bertambahnya petani yang menjual pada lembaga pembeli gabah yaitu KUD.
6. Dampak program pembelian gabah / bahan pangan lain adalah menambah dana segar bagi pembeli gabah sehingga mampu membeli gabah petani dengan volume yang lebih banyak.
7. Program ini menambah kekuatan lembaga pembeli gabah untuk membeli dengan tunai pada petani sehingga pada saat panen petani dapat memperoleh uang tunai.
8. Kekuatan menyerap ekses supply pada saat panen pada program ini masih belum memadai bila dibandingkan dengan volume ekses supply yang memang terjadi pada saat panen.




Dampak Cooperative Farming Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani (Studi Kasus di Desa Ngasem Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang)…(PERT-90)



Untuk melaksanakan Cooperative farming di tingkat usahatani di pedesaan maka dipandang perlu untuk melaksanakan kelembagaan cooperative farming ini dalam lingkup terbatas terlebih dahulu (pilot project) dan melihat dampaknya di masa uji coba itu secara terbatas. Berdasarkan pemikiran ini maka penelitian tentang potensi pelaksanaan cooperative farming, perbandingan usahatani sebelum melaksanakan cooperative farming dan sesudah melaksanakan cooperative farming pada daerah yang telah melaksanakan menjadi sangat penting.

Penelitian ini bertujuan untuk : (a) Mengukur potensi pengembangan cooperative farming pada petani peserta proyek. (b) Membandingkan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dan non cooperative farming.
Penelitian dilakukan di Desa Ngasem Kecamatan Ngajum Kabupaten Malang. Penentuan lokasi dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa desa ini merupakan pilot proyek cooperative farming yang didanai oleh Pemerintah Propinsi Jawa Timur tahun anggaran 2004.Sampel penelitian ini sebanyak 60 orang yang terdiri dari 30 orang petani yang mengikuti proyek cooperative farming dan 30 orang petani yang tidak mengikuti proyek cooperative farming. Data dikumpulkan dengan cara mewawancarai petani yang terpilih (interview) menggunakan kuesioner yang telah dipersiapkan. Untuk mengukur potensi pelaksanaaan cooperative farming digunakanlah berbagai indikator yang disusun berdasarkan aplikasi teori dan petunjuk pelaksanaan proyek. Untuk membandingkan perbedaan pendapatan petani yang melaksanakan cooperative farming dengan yang tidak mengikuti cooperative farming digunakan uji t (pengujian ini didasarkan pada kaidah with and without). Sebelum menyusun langkah-langkah strategis pengembangan cooperative farming di masa yang akan datang dilakukanlah analisis SWOT untuk melihat faktor eksternal dan internal yang mempengaruhi penerapan model cooperative farming.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (a) Kelompok tani Barokah di Desa Ngasem memiliki potensi besar untuk melaksanakan cooperative farming dengan baik karena skor kemampuan melaksanakan pengadaan sarana produksi secara kolektif sangat tinggi, pengaturan pola tanam dan bertanam kolektif, melakukan pengolahan tanah secara kolektif. Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara kolektif dengan SLPHT selama bertahun-tahun. Hal yang belum dilakukan hanyalah mengadakan kerjasama kolektif dengan produsen penyedia sarana produksi. (b) Potensi pengelolaan budidaya dengan cooperative farming juga sangat tinggi hal ini dapat dilihat dari tinggi skor pada butir-butir sistem pengelolaan pengairan, sistem interaksi alih teknologi, dan sistem pemasaran hasil panen. Hal yang belum dilakukan adalah kontrak pemasaran dengan pembeli hasil pertanian (gabah). (c) Secara aktual, hampir seluruh komponen input produksi cooperative farming dapat ditekan jauh lebih rendah dibandingkan dengan komponen input produksi non cooperative farming. Sebaliknya, produktivitas, penerimaan usahatani, dan pendapatan usahatani petani cooperative farming menjadi dua kali lipat dibandingkan dengan petani non cooperative farming.


Pengaruh Pola Kemitraan Pt Bisi Terhadap Peningkatan Pendapatan Petani Cabai … (PERT-89)


Masyarakat di Desa Maron Kecamatan Kabupaten Blitar sebagian besar penduduknya mata pencahariannya adalah petani. Usaha untuk meningkatkan kwalitas dan kuantitas produksi yang secara langsung akan meningkatkan pendapatan petani, petani di Desa Maron mengambil langkah alternatif dengan program pola kemitraan dengan PT BISI. Dengan pola kemitraan diharapkan dapat miningkatkan kemakmuran.
Tujuan dari penelitian ini adalah : 1) Untuk mengetahui pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani cabe di Desa Maron, 2) Mengetahui pengaruh yang paling dominan pada pola kemitraan terhadap peningkatan petani cabe di Desa Maron.

Penelitian yang dilakukan adalah jenis penelitian deskriptif , tehnik pengumpulan data dengan cara wawancara, kuisioner, dan dokumentasi. Metode analis yang dugunakan adalah dengan menggunakan analisis korelasi berganda dan regresi linear berganda.

Berdasarkan tujuan, hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan : 1) Ada pengaruh pola kemitraan terhadap peningkatan pendapatan petani cabe di Desa Maron, dengan koefisien korelasi sebesar 0.929. 2) Pengaruh yang paling dominan dalam pola kemitraan terhadap peningkatan petani cabai adalah variabel kepastian pasar (X2) dengan koefisien regresi sebesar 0.324. Sedangkan yang kedua adalah variabel jaminan harga (X3) dengan koefisien regresi sebesar 0.316. Dan yang ketiga adalah pengadaan benih (X1) dengan koefisien regresi sebesar 0.309



Analisis Fluktuasi Harga Pisang Agung Produksi Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang ... (PERT-88)


Program pengembangan hortikultura di Jawa Timur bertujuan meningkatkan produksi dan mutu produk unggulan yang berdaya saing, mengembangkan berbagai produk untuk mendukung diversifikasi pangan, mendorong perkembangan ekonomi daerah dan nasional, mengembangkan kesempatan kerja dan kesempatan berusaha, meningkatkan devisa serta meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. Salah satu upaya untuk mencapai tujuan tersebut adalah dengan mengembangkan sistem dan usaha agribisnis hortikultura melalui penerapan paket teknologi sesuai standar prosedur operasional disetiap tingkatan kegiatan.

Melalui pendekatan agribisnis dari tahun ketahun produksi hortikultura telah menunjukkan peningkatan yang cukup menggembirakan, namun baik secara kuantitatif maupun kualitatif produksi tersebut belum seimbang dengan pertumbuhan permintaan baik dalam negeri maupun permintaan dari luas negeri. Permintaan di dalam negeri terutama disebabkan oleh pertumbuhan jumlah penduduk, peningkatan pendapatan, kesadaran masyarakat akan gizi serta perkembangan agroindustri dan pariwisata.
Paimin (1994) mengungkapkan, walaupun pemerintah memberikan peluang dalam hal impor buah buahan sehingga vlume impor meningkat, namun kebutuhan buah secara nasional belum tercukupi. Konsumsi buah-buahan penduduk Indonesia pada tahun 1995 baru mencapai 35 kg per kapita per tahun (Effendi 1997). Sedangkan menurut ketentuan badan dunia (FAO) konsumsi ideal untuk buah buahan sebanyak 64 kg per kapita per tahun, dan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap buah pisang menurut data Susenas tahun 2002 baru mencapai 7,80 kg per kapita per tahun jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan konsumsi pisang di Negara maju (Amerika Serikat) yang mencapai 22,05 kg per kapita per tahun. Dengan demikian potensi permintaan buah-buahan termasuk pisang masih cukup besar seiring dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk dan kesadaran masyarakat akan pentingnya mengkonsumsi buah-buahan.
Indonesia merupakan salah satu negara pemasok buah buahan trofis, namun perannya masih sangat kecil yaitu kurang dari 1 persen (Winarno 1996). Walaupun buah buahan trofis asal Indonesia telah memasuki pasaran dunia, akan tetapi jumlahnya sangat kecil akibat kemampuan suplai yang rendah dan tidak kontin, padahal permintaan buah buahan trofis segar dunia hususnya negara negara Eropa, Amerika dan Asia mengalami peningkatan 10,8 persen per tahun (Winarno 1996).

Jawa Timur terkenal sebagai Propinsi penghasil buah buahan eksotik, salah satu diantaranya yang mempunyai nilai ekonomis dan sedang berkembang dengan pesat adalah pisang, baik dalam bentuk segar maupun dalam bentuk olahan.
Kabupaten Lumajang yang terenal dengan sebutan kota pisang terdiri dari 21 kecamatan sebagian besar merupakan sentra pisang dengan memiliki luas 2644 ha dengan produksi 29,546 ton per tahun. Beberapa varietas pisang yang dikembangkan di Kabupaten Lumajang diantaranya, Agung Semeru, Mas Kirana, Raja Lumut, Ambon, Susu, Embug dan sebagainya. Diantara varietas pisang tersebut di atas, salah satu yang mempunyai harga stabil dan sangat menguntungkan bagi petani adalah pisang Mas Kirana, hal ini dikarenakan sistem pemasaran pisang mas kirana telah dilakukan melalui pola kemitraan dengan PT Sewu Segar Nusantara Jakarta. Sedangkan untuk varietas yang lain masih mengalami kendala pemasaran sehingga harga sangat berfluktuasi.
Dalam rangka pengembangan produk pertanian tidak cukup hanya memperbaiki cara berusahatani aja, melainkan harus diikuti dengan usaha penyempurnaan di bidang pemasaran karena pasar adalah merupakan salah satu syarat pokok bagi pengembangan usaha agribisnis. Menurut Ainurrofik (1984) pemasaran merupakan kegiatan yang penting dalam menjalankan usaha pertanian, karena pemasaran merupakan tindakan ekonomi yang berpengaruh terhadap tinggi rendahnya pendapatan petani. Penanaman pisang dilakukan oleh banyak petani dan lokasinya tersebar di beberapa desa, sehingga dalam melakukan distribusi kepada konsumen banyak melibatkan lembaga perantara mulai dari pedagang pengumpul tingkat desa, kecamnatan dan lembaga perantara tingkat kabupaten. Keterlibatan lembaga perantara tersebut mempunyai peranan penting dalam rangka memperlancar penyampaian pisang dari petani ke konsumen. Akan tetapi menurut Saifuddin (1982) terdapat perbedaan kepentingan diantara para pelaku pasar, yaitu petani produsen yang menghendaki harga tinggi, lembaga perantara ingin mendapatkan keuntungan yang besar dan konsumen menghendaki harga yang murah. Disebutkan juga oleh Saifudin (1982) bahwa dalam pemasaran yang efisien akan tercipta kepuasan bagi produsen, lembaga pemasaran dan konsumen.



Analisis Nilai Tambah, Efisiensi dan Saluran Pemasaran Agroindustri Emping Melinjo di Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar … (PERT-87)


Pembangunan pertanian di Kabupaten Blitar merupakan prioritas pembangunan daerah yang mempunyai keunggulan komparatif sebagai daerah agraris. Sektor pertanian meliputi subsektor tanaman pangan dan hortikultura, peternakan, perikanan serta subsektor perkebunan. Perekonomian di Kabupaten Blitar didominasi oleh sektor pertanian, yang menyumbang PDRB sebesar 47,16%, sektor perdagangan/restoran sebesar 25,75% sedangkan sektor industri pengolahan hanya menyumbang sebesar 3,11% pada tahun 2003. Demikian juga dengan industri pengolahan emping melinjo yang mempunyai banyak peluang untuk diusahakan. Selain itu emping melinjo merupakan sektor industri kecil yang potensial, mempunyai nilai ekonomis yang cukup tinggi dan berprospek cerah untuk diusahakan. Emping melinjo merupakan salah satu komoditas ekspor nonmigas. Jumlah ekspor emping melinjo berfluktuatif yang disebabkan karena usaha agroindustri tersebut masih bersifat industri kecil (skala rumah tangga).

Permasalahan penelitian ini adalah berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, berapa besar keuntungan dan efisiensi yang diberikan agroindustri emping melinjo serta bagaimana sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut.
Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berapa besar nilai tambah yang diberikan agroindustri emping melinjo, untuk mengetahui keuntungan dan efisiensi yang diberikan agoroindustri emping melinjo serta untuk mengetahui sistem dan saluran pemasaran pada agroindustri emping melinjo tersebut. Sehingga hipotesis yang didapat yaitu : diduga bahwa agroindustri emping melinjo di daerah penelitian akan memberikan nilai tambah, keuntungan dan efisiennsi yang besar, diduga bahwa sistem dan saluran pemasaran di daerah penelitian belum efisien.

Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja (Purposive) di Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar karena daerah ini merupakan salah satu sentra agroindustri pengolahan emping melinjo dan pengambilan sampel menggunakan metode sensus. Pengumpulan data primer dilakukan dengan metode wawancara dengan responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari perpustakaan dan instansi terkait yaitu Kantor Kepala Desa Bakung dan Desa Besuki Kecamatan Udanawu Kabupaten Blitar serta hasil-hasil penelitian terdahulu. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif, yaitu analisis yang digunakan untuk mendeskripsikan fenomena-fenomena sosial ekonomi yang melatarbelakangi fenomena-fenomena yang ada. Sedangkan analisis kuantitatif yang digunakan meliputi analisis penerimaan, analisis keuntungan, analisis nilai tambah dan imbalan tenaga kerja serta analisis efisiensi agroindustri emping melinjo.

Dari hasil penelitian didapat bahwa keuntungan yang didapat oleh agroindustri skala rumah tangga sebesar Rp. 19.690,54 dan skala kecil sebesar Rp. 47.449,55. Dari tabel analisis nilai tambah antara skala industri rumah tangga dan industri kecil mempunyai nilai yang berbeda yaitu sebesar 1362,48 untuk skala rumah tangga dan 1602,90 untuk skala kecil. Perbedaan nilai ini dikarenakan adanya perbedaan kemampuan memproduksi emping melinjo. Nilai R/C rasio yang didapat oleh industri skala rumah tangga sebesar 1,10 dan skala kecil sebesar 1,15. Dengan demikian maka industri emping melinjo skala kecil lebih efisien dan lebih menguntungkan untuk diusahakan dibanding skala rumah tangga. Saluran pemasaran yang ada di daerah penelitian ada 4 yaitu antara pengrajin langsung ke konsumen, kedua yaitu pengrajin - pengecer - konsumen, ketiga antara pengrajin - pedagang pengumpul lokal - pengecer - konsumen, dan yang terakhir yaitu antara pengrajin - pedagang pengumpul - pedagang besar - pengecer - konsumen.



Strategi Pengembangan Dan Analisis Pendapatan Agroindustri Gula Semut. (Studi Kasus Di Desa Serut, Kecamatan Boyolangu, Kabupaten )…(PERT-86)


Industrialisasi pedesaan merupakan suatu proses yang dicirikan dengan penggunaan alat-alat mekanis dalam sektor pertanian dan semakin berkembangnya industri pengolahan hasil-hasil pertanian. Dampak dari industrialisasi tersebut dapat diwujudkan melalui keterkaitan yang saling menguntungkan antara petani produsen dengan industri pengolahan dalam mewujudkan pembangunan ekonomi pedesaan.

Kabupaten Tulungagung merupakan salah satu daerah penghasil gula semut di Jawa Timur, sebagian masyarakatnya telah mengusahakan usaha ini lebih dari 20 tahun dan bersifat turun-temurun, Desa Serut salah satunya. Namun keberadaan agroindustri ini ternyata belum mampu menjalankan perannya secara optimal. Produsen harus mengahabiskan waktu yang cukup lama untuk mengembangkan usahanya ini, bahkan ada dari mereka yang tidak bertahan dalam usaha ini. Faktor yang menyebabkan antara lain modal yang terbatas, pasar yang masih lokal daerah, teknologi belum modern. Faktor-faktor tersebut secara langsung maupun tidak langsung akan berpengaruh pada kualitas, kuantitas maupun kontinyuitas produksi gula semut yang dihasilkan masih rendah sehingga keuntungan yang diperoleh produsen gula semut tidak bisa maksimal. Akan tetapi produsen yang mampu memanfaatkan peluang-peluang ekonomi dan memiliki strategi dalam mengusahakan agroindustri gula semut akan mampu bertahan bahkan dapat meningkatkan pendapatan dan skala usaha.

Melihat kenyataan yang ada maka perlu diadakan penelitian mengenai strategi pengembangan dan analisis pandapatan agroindustri gula semut untuk mengetahui keuntungan yang didapatkan dari usaha ini dan juga sejauh mana agroindustri ini mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi sebagai upaya untuk tetap menjaga profitabilitas, pertumbuhan dan kelangsungan usaha serta peningkatan kesejahteraan masyarakat khususnya produsen gula semut dan peningkatan perekonomian masyarakat desa melalui pemilihan strategi pengembangan usaha yang tepat.

Permasalahan yang akan dikaji adalah: (1). Apakah kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang harus dihadapi oleh agroindustri gula semut. (2) Strategi apakah yang akan digunakan produsen untuk mengembangkan agroindustri gula semut. (3) Berapa besarnya pendapatan, keuntungan dan R C Ratio agroindustri gula semut.
Tujuan Penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman yang terdapat dalam agroindustri dan untuk merumuskan strategi apa yang sesuai digunakan produsen dalam upaya mengembangkan agroindustri gula semut serta menganalisis besarnya pendapatan, keuntungan agroindustri gula semut dan RC Ratio
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah diduga agroindustri gula semut faktor kekuatan dan peluang lebih besar dibandingkan dengan kelemahan dan ancaman.
Penentuan daerah penelitian dilakukan secara sengaja. Pengambilan sampel (responden) dilakukan secara sensus. Pengumpulan data melalui wawancara, observasi, data primer dan data sekunder. Metode analisis data yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan analisis pendapatan, keuntungan usaha dan analisis efisiensi usaha/RC Ratio. Biaya produksi dihitung dengan rumus TC = TFC+TVC, pendapatan kotor atau penerimaan dirumuskan dengan TR=PqXQ dan pendapatan bersih atau keuntungan adalah  = TR-TC, RC Ratio = Pq.Q/TVC + TFC. Jumlah responden sebanyak 8 orang.
Dari analisis SWOT didapatkan bahwa faktor internal yang mempengaruhi dilihat dari kekuatan adalah sebagai sarana peningkatan kesejahteraan, tenaga kerja berpengalaman, produk tahan lama, kemampuan memimpin usaha, ciri khas produk. Sedangkan kelemahan yang dimiliki antara lain keterbatasan modal, teknologi gabungan, produksi belum stabil, kualitas belum terstandarisasi, keterkaitan on farm dan off farm belum mantap. Nilai dari faktor internal yaitu 2,70 artinya agroindustri ini mampu dalam menghadapi dinamika lingkungan internal.

Dari faktor eksternal didapatkan peluang antara lain: kemudahan dalam memperoleh bahan baku, penganekaragaman produk, penelitian dan pengembangan, sarana transportasi lancar, penyerapan hasil pertanian. Sedangkan ancaman yang didapatkan antara lain: adanya pesaing, adanya barang substitusi, pangsa pasar masih lokal, harga murah, selera konsumen. Nilai dari faktor eksternal yaitu 2,55 artinya agroindustri gula semut mampu menghadapi perubahan yang terjadi di lingkungan eksternal perusahaan.
Pendapatan kotor atau penerimaan yang diterima sebesar Rp. Rp. 2.681.250,00. Keuntungan atau pendapatan bersih yang diterima sebesar Rp. 188.727,50 per sekali produksi. Analisis efisiensi usaha atau RC Ratio menunjukkan sebesar 1,08. Artinya setiap Rp. 1,00 yang diinvestasikan oleh produsen akan memperoleh pendapatan sebesar Rp. 1,08.
Berdasarkan temuan di lapang, ada beberapa saran yang diajukan dalam membantu produsen dalam mengembangkan usahanya antara lain: (1) Produsen gula semut melakukan survey pasar untuk melihat prospek perlusan pasar ke depannya. (2) Dengan menerapkan strategi pengembangan yang tepat maka produsen gula semut di daerah penelitian akan dapat meningkatkan usahanya.



Analisis Usaha Padi Sawah dengan Menggunakan Urea Tablet Studi di Desa Tisnogambar Kecamatan Bangsalsari Kabupaten Jember … (PERT-85)


Penelitian dilakukan di desa Tisnogambar kecamatan Bangsalsari kabupaten Jember pada bulan Nopember 2005 sampai dengan Maret 2006. Pemilihan lokasi dilakukan secara purposive karena desa Tisnogambar memiliki otensi padi sawah yang cukup besar dan hal ini didukung dengan adanya jaringan irigasi teknnis untuk seluruh lahan sawah.
Penelitian bertujuan untuk mengetahui perbedaan besarnya biaya, penerimaan, keuntungan dan tingkat efisiensi antara kelompok petani pengguna urea prill dengan kelompok petani pengguna urea tablet. Sampel diambil masing-masing kelompok sebanyak 30 orang secara simple random sampling dari populasi yang ada.

Dari hasil penelitian diperoleh data sebagai berikut : Biaya total kelompok pengguna urea prill ternyata lebih besar dibanding biaya yang dikeluarkan kelompok pengguna urea tablet, sehingga biaya mencapai Rp 90.000/ha. Produksi kelompok pengguna urea tablet lebih besar daripada produksi yang dihasilkan oleh kelompok pengguna uera Prill. Selisih produksi tersebut mencapai 670 kg gabah per ha. Hal ini akan mempengaruhi adanya perbedaan besarnya apenerimaan. Penerimaan kelompok pengguna urea tablet lebih besar Rp 1.001.800 dibanding penerimaan kelompok pengguna urea Prill. Perbedaan ini tidak hanya disebabkan adanya perbedaan produksi, tetapi juga disebabkan oleh perbedaan harga gabah diantara kedua kelompok. Harga gabah yang dihasilkan kelompok pengguna urea tablet lebih mahal Rp 20,- dibanding harga gabah dari kelompok pengguna urea Prill. Hal ini menandakan bahwa mutu gabah yang dihasilkan kelompok pengguna urea tablet lebih baik.

Pada kedua kelompok sampel terdapat perbedaan tingkat efisiensi usaha yaitu efisiensi kelompok pengguna urea tablet ( 1,889 ) lebih besar daripada tingkat efisiensi kelompok pengguna urea Prill ( 1,657 ).
Dari hasil analisis statistik diperoleh fakta bahwa t hitung < t tabel ( 0,1948 < 2,0 ) untuk dk = 58 dan tingkat kesalahan 5%, sehingga Ho yang menyatakan tidak terdapat perbedaan tingkat efisiensi usaha anata kelompok petani pengguna urea Prill dengan kelompok petani pengguna urea tablet harus diterima. Artinya walaupun pada kasus sampel terjadi perbedaan tingkat efisiensi tetapi hal itu hanya terbatas terjadi pada sampel saja dan hal ini tidak berlaku pada anggota populasi yang lain. Jadi dengan perkataan lain, perbedaan tersebut tidak signifikan.



Analisis Kinerja Jalur Pemasaran Dan Prospek Pasar Susu Kambing (Studi di Agriculture Technical Misión Republic of China) (PERT-84)


Penelitian ini dilaksanakan di Agriculture Technical Mission Republic of China Desa Toyomarto, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang mulai tanggal 1 Maret sampai 31 Maret 2004. Tujuan Penelitian adalah untuk menganalisis kinerja jalur pemasaran dan prospek pasar susu kambing di ATM-ROC. Kegunaan dari penelitian ialah sebagai informasi bagi produsen untuk mengetahui tingkat efisiensi pemasaran susu kambing, pertimbangan untuk menetapkan kebijakan yang diambil produsen guna pengembangan usaha selanjutnya dan informasi untuk penelitian selanjutnya.

Metode penelitian menggunakan metode studi kasus (case study). Pengambilan sample lembaga pemasaran dilakukan secara total sampling, sedangkan sample konsumen dilakukan secara accidental sampling. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, kuisioner dan observasi. Analisis data berupa analisis secara deskriptif, analisis harga yang diterima produsen, analisis share keuntungan dan biaya lembaga pemasaran, analisis margin pemasaran, analisis pendekatan structure, conduct and Market performance (S-C-P) dan analisis SWOT.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 2 tipe saluran pemasaran susu kambing, yaitu : (1) Produsen  konsumen akhir dan (2) produsen  pedagang  pengecer  konsumen akhir. Harga jual susu pasteurisasi dan yoghurt berkisar antara Rp 3.500 sampai Rp 4.500 per cup (220 ml) dan Rp 6.000 sampai Rp 6.500 per cup (220 ml). Besarnya margin pemasaran berbeda pada masing-masing pedagang pengecer dengan kisaran Rp 1.000 per cup (220 ml) sampai Rp 2.500 per cup (220 ml) untuk susu pasteurisasi dan yoghurt, sedangkan margin pemasaran untuk susu segar sebesar Rp 8.000 per liter. Share yang diterima produsen untuk produk susu segar sebesar 60 persen, share dari susu pasteurisasi berkisar antara 55,56 sampai 71,43 persen, dan share dari yoghurt sebesar 61,54 dan 66,67 persen. Keuntungan dan distribusi margin masing-masing pedagang menunjukkan perbedaan yang disebabkan oleh aktifitas kegiatan fungsi pemasaran yang dilakukan dan tujuan usaha pedagang. Evaluasi dengan pendekatan struktur, perilaku dan penampilan pasar menunjukkan belum efisien dengan indikator penilaian antara lain: margin pemasaran, harga produk, tingkat keuntungan, tersedianya fasilitas pemasaran dan intensitas persaingan. Evaluasi dengan metode SWOT menunjukkan prospek pasar yang cukup besar dengan pertimbangan alternatif solusi antara lain: peningkatan kegiatan promosi, perbaikan manajemen sumber daya manusia dan peninjauan kembali visi dan misi usaha, meningkatkan mutu pelayanan pemasaran dan kontinuitas produk, dan perbaikan kinerja perusahaan dengan strategi pemasaran baru.
Kesimpulan dari hasil penelitian ialah kinerja jalur pemasaran belum efisien (efisiensi rendah) dan prospek pasar yang cukup besar apabila didukung dengan strategi pemasaran baru. Saran dari peneliti antara lain: kegiatan promosi menggunakan media radio berupa iklan dan brosur, perluasan pasar dengan pembukaan jalur distribusi baru, meningkatkan mutu pelayanan dan kontinuitas produk, perbaikan kepemimpinan dan profesionalitas, rekrutment tenaga pemasaran dan alternatif lain transaksi pembayaran.



Analisis Pola Kemitraan Budidaya Ayam Pedaging Pada Kud ”Sari Bumi” Bululawang Kabupaten Malang … (PERT-83)


Pengumpulan data penelitian dilaksanakan pada tanggal 15 Mei sampai dengan 16 Juni 2006 di KUD ”Sari Bumi” Bululawang Kabupaten Malang. Masalah penelitian adalah bagaimana mekanisme kerjasama kemitraan antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, bagaimana sistem kesepakatan harga sarana produksi dan hasil produksi kemitraan KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, bagaimana bentuk perjanjian kerjasama antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging dan bagaimana pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak ayam pedaging KUD “Sari Bumi”.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui mekanisme kerjasama kemitraan antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, mengetahui sistem kesepakatan harga sarana produksi dan hasil produksi kemitraan KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging, mengetahui bentuk perjanjian kerjasama antara KUD “Sari Bumi” dengan peternak ayam pedaging dan mengetahui pendapatan yang diperoleh dari usaha ternak ayam pedaging KUD “Sari Bumi”. Kegunaan penelitian adalah sebagai petunjuk bentuk kerjasama yang sebaiknya diterapkan dalam hubungan peternak dengan KUD dalam rangka melaksanakan kemitraan yang berkelanjutan, sebagai bahan informasi serta pertimbangan bagi KUD dalam menyusun dan menetapkan kebijakan untuk pembangunan usaha dan pembinaan peternak, sebagai bahan pertimbangan untuk menetapkan keputusan yang diambil peternak untuk pengembangan usaha serta sebagai bahan informasi untuk melakukan penelitian lebih lanjut.

Metode penelitian yang digunakan adalah metode survai yang digunakan untuk mengumpulkan data primer. Pengumpulan data primer diperoleh dari KUD “Sari Bumi” dan dari peternak plasma anggota kemitraan dengan menggunakan instrumen observasi, wawancara dan kuesioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari studi pustaka. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif dianalisis secara deskriptis, sedangkan data kuantitatif dianalisis secara eksplanatif dengan perhitungan rumus – rumus ekonomi.Teknik pemilihan sampel dilakukan secara judgemental sampling dengan jumlah sampel 30 responden. Variabel yang diamati adalah Variabel bebas meliputi; jumlah penguasaan ternak (ekor) serta uang muka.Variabel tidak bebas; jumlah pendapatan peternak plasma.

Hasil penelitian menunjukkan pelaksanaan pola kemitraan usaha ayam pedaging pada KUD “Sari Bumi” merupakan pola kemitraan inti plasma. Besarnya harga sarana produksi ditentukan berdasarkan harga pasar yang setiap harinya berfluktuasi (berubah – ubah) artinya KUD tidak memberikan harga garansi terhadap harga jual input (pakan, DOC, Obat) dan output (ayam pedaging). Koperasi Unit Desa berperan sebagi inti yang bertanggung jawab dalam pemasokan sarana produksi berupa pakan, DOC dan obat – obatan serta bertanggung jawab dalam pemasaran hasil produksi dan bimbingan teknis. Peternak plasma bertanggung jawab dalam proses produksi untuk menghasilkan ayam pedaging hidup. Kerjasama kemitraan hanya dilakukan secara lesan tanpa adanya bukti tertulis yang dapat dipertanggung jawabkan secara hukum. Mekanisme kerjasama kemitraan meliputi tahapan kerjasama kemitraan unit unggas KUD “Sari Bumi”, persyaratan peternak plasma, penetapan harga sarana produksi dan hasil produksi, peta hak dan kwajiban antara KUD dan peternak, pola pengawasan KUD, kedudukan inti – plasma dalam kemitraan KUD, pola pengaturan produksi, bonus dan tabungan koperasi (takosi), teknis produksi, sanksi, pemasaran dan permasalahan – permasalahan produksi. Pelaksanaan kemitraan KUD dalam meningkatkan kesejahteraan peternak belum sepenuhnya tercapai, misalnya banyak peternak yang berhenti usaha karena rugi dan tidak mampu mambayar hutang ke KUD. Permasalahan dalam kemitraan contohnya adalah keterlambatan pakan dan umur panen, kualitas pakan yang diberikan jelek, kurangnya pengawasan dan bimbingan teknis. Rata – rata FCR ayam pedaging yang diusahakan peternak yaitu 1,9. Sedangkan angka mortalitas ayam pedaging mencapai angka yang cukup tinggi yaitu 6,2 persen. Prosentase modal terbesar dialokasikan pada pengadaan pakan. Struktur biaya produksi dibedakan menjadi 3 strata. Biaya produksi per kilogram bobot ayam pedaging hidup pada masing – masing strata adalah pada strata I sebesar Rp. 8145,13, strata II sebesar Rp. 7280,53 dan strata III sebesar Rp. 7195,44, Pendapatan per kilogram ayam pedaging pada strata I sebesar Rp. 28,07, strata II Rp. 120,72 dan strata III sebesar Rp. 314,91. Rentabilitas pada strata I, II dan III masing – masing adalah 0,43 persen, 1,48 persen dan 4,15 persen.
Saran dalam penelitian ini diantaranya adalah isi perjanjian kerjasama kemitraan sebaiknya dibuat secara saling menguntungkan antara KUD dan peternak plasma, misalnya persamaan kedudukan dalam bergainning position antara KUD dan peternak , penetapan uang muka yang lebih murah, sistem bonus berdasarkan FCR. KUD sebaiknya merubah kesepakatan harga kemitraan dengan memberikan harga garansi sapronak dan hasil produksi, sehingga dapat meminimalisir kerugian peternak akibat fluktuasi harga. Bentuk perjanjian kerjasama kemitraan sebaiknya dibuat secara tertulis sehingga lebih terinci peta hak dan kwajiban antara KUD dan peternak plasma serta dapat dipertanggung jawabkan secara hukum yang berlaku. Peternak sebaiknya terus mengembangkan usaha ternak ayam pedagingnya dengan memperbasar skala usahanya.



J -1...

Friday, April 18, 2008

... avant mes 20 ans !!!

19 avril 1988 - 19 avril 2008

























1ère retraite de Profession de Foi: EMBARQUONS


Mardi et mercredi derniers, je suis partie deux jours à l'institut de Genech pour animer les fameuses retraites de Profession de Foi !! Deux journées bien remplies où une cinquantaine de collégiens du coin ont pu réfléchir sur leur choix de faire leur communion, réfléchir aussi sur leurs années de cathé, le pardon, les prières, le monde qui les entoure, etc. Nous, les animateurs étions présents pour les accompagner pendant ces retraites.
Pour moi, ce fut une première !! Cette année, j'ai pu n'en faire qu'une seule sur les trois mais l'expérience n'en est pas moins enrichissante: l'équipe des animateurs est très sympathique et délirante, le contact avec les enfants est comme toujours génial, les réflexions et échanges m'apportent beaucoup !! J'ai pu également faire mes premiers pas en tant qu'animatrice de chants: un peu stressée mais apparamment, d'après les "plus pro" je m'en sors pas si mal et les enfants chantent bien !!!
Ces retraites de Profession de Foi sont un moyen de plus pour m'engager dans l'Eglise et de partager plein de choses avec d'autres !! Je continuerai !!! Par contre, pour des photos, il faudra attendre un peu...

Olive Oil Buyer's Guide

Wednesday, April 16, 2008

Olive oil is one of the few good vegetable oils. It is about 10% omega-6 (n-6) fatty acids, compared to 50% for soybean oil, 52% for cottonseed oil and 54% for corn oil. Omega-6 fatty acids made up a smaller proportion of calories before modern times, due to their scarcity in animal fats. Beef suet is 2% n-6, butter is 3% and lard is 10%. Many people believe that excess n-6 fat is a contributing factor to chronic disease, due to its effect on inflammatory prostaglandins. I'm reserving my opinion on n-6 fats until I see more data, but I do think it's worth noting the association of increased vegetable oil consumption with declining health in the US.

Olive oil is also one of the few oils that require no harsh processing to extract. As a matter of fact, all you have to do is squeeze the olives and collect the oil. Other oils that can be extracted with minimal processing are red palm oil (9% n-6), hazelnut oil (10% n-6) and coconut oil (2% n-6). These are also the oils I consider to be healthy. Due to the mild processing these oils undergo, they retain their natural vitamin and antioxidant content.

You've eaten corn, so you know it's not an oily seed. Same with soybeans. So how to they get the oil out of them? They use a combination of heat and petroleum solvents. Then, they chemically bleach and deodorize the oil, and sometimes partially hydrogenate it to make it more shelf-stable. Hungry yet? This is true of all the common colorless oils, and anything labeled "vegetable oil".


Olive oil is great, but don't run out and buy it just yet! There are different grades, and it's important to know the difference between them.
The highest grade is extra-virgin olive oil, and it's the only one I recommend. It's the only grade that's not heated or chemically refined in any way. Virgin olive oil, "light" olive oil (refers to the flavor, not calories), "pure" olive oil, or simply olive oil all involve different degrees of chemical extraction and/or processing. This applies primarily to Europe. Unfortunately, the US is not part of the International Olive Oil Council (IOOC), which regulates oil quality and labeling.

The olive oil market is plagued by corruption. Much of the oil exported from Italy is
cut with cheaper oils such as colza. Most "Italian olive oil" is actually produced in North Africa and bottled in Italy, and may be of inferior quality. The USDA has refused to regulate the market so they get away with it. If you find a deal on olive oil that looks too good to be true, it probably is.

Only buy from reputable sources. Look for the IOOC seal, which guarantees purity, provenance and freshness. IOOC olive oil must contain less than 0.8% acidity. Acidity refers to the percentage of free fatty acids (as opposed to those bound in triglycerides), a measure of damage to the oil.
Fortunately, the US has a private equivalent to the IOOC, the California Olive Oil Council (COOC). The COOC seal ensures provenance, purity and freshness just like the IOOC seal. It has outdone the IOOC in requiring less than 0.5% acidity. COOC-certified oils are more expensive, but you know exactly what you're getting.

Thanks to funadium for the CC photo